src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> BNN Ungkap Modus Baru Peredaran Narkoba Melalui Vape

BNN Ungkap Modus Baru Peredaran Narkoba Melalui Vape

3 minutes reading
Friday, 8 May 2026 14:39 7 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Badan Narkotika Nasional mengungkap maraknya penyalahgunaan cairan vape yang dicampur zat narkotika dan menyasar generasi muda. Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap tren baru peredaran narkoba melalui liquid vape atau rokok elektronik yang kini semakin marak di Indonesia.

Temuan tersebut disampaikan Penata Laboratorium Narkotika Ahli Madya Pusat Laboratorium Narkotika BNN, Carolina Tonggo Marisi Tambunan, dalam kegiatan Silaturahmi Nasional dan Diskusi Publik Gerakan Nasional Anti Narkoba (GANAS ANNAR) MUI Pusat di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurut Carolina, perkembangan gaya hidup dan penggunaan rokok elektronik membuka celah baru bagi penyalahgunaan narkotika melalui cairan vape.

“Kita semua tahu bahwa perkembangan gaya hidup dan teknologi membuat pola distribusi narkotika semakin kompleks, salah satunya melalui liquid vape,” ujarnya.

Ia menjelaskan, cairan vape umumnya mengandung nikotin, propilen glikol, vegetable glycerin, dan zat perasa. Namun dalam sejumlah kasus, cairan tersebut dicampur dengan narkotika maupun New Psychoactive Substances (NPS).

BNN mencatat sejumlah temuan liquid vape yang mengandung zat berbahaya seperti etomidate, ketamin, metamfetamina, THC, MDMA, kokain, hingga senyawa sintetis lainnya.

Berdasarkan hasil analisis Pusat Laboratorium Narkotika BNN, etomidate menjadi zat yang paling banyak ditemukan dalam kasus vape narkotika sepanjang 2026.

Carolina juga memaparkan pengungkapan laboratorium gelap atau clandestine laboratory di Apartemen Ancol, Jakarta Utara, pada 4 Januari 2026. Dalam kasus tersebut, petugas mengamankan ratusan cartridge liquid vape yang mengandung etomidate dan ketamin.

Selain barang bukti, BNN turut menangkap empat warga negara Indonesia yang diduga berperan sebagai kurir, pengendali, dan pembiaya jaringan internasional Malaysia–China–Indonesia.

Tidak lama berselang, pada 15 Januari 2026, BNN bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kembali mengungkap laboratorium gelap di Sudirman Tower Condominium, Jakarta Selatan.

Lokasi tersebut diketahui memproduksi cairan vape yang mengandung narkotika golongan II jenis etomidate. Dari pengungkapan itu, petugas menemukan hampir lima liter cairan mengandung etomidate serta ribuan cartridge siap edar.

Menurut Carolina, penggunaan vape di Indonesia juga terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan WHO melalui Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi penggunaan rokok elektronik di Indonesia mencapai 3 persen.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2011 yang hanya berada di angka 0,3 persen.

Ia mengingatkan penggunaan vape yang dicampur narkotika dapat menimbulkan efek sedatif, gangguan saraf pusat, hingga ketergantungan serius. Fenomena ini juga disebut mulai banyak menyasar kalangan remaja dan komunitas urban.

Sebagai langkah pencegahan, BNN terus memperkuat kerja sama lintas sektor bersama kementerian, lembaga, BPOM, BRIN, pemerintah daerah, hingga masyarakat untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi terkait bahaya narkotika melalui rokok elektronik.

“BNN RI hadir lebih awal sebagai bentuk pencegahan proaktif melalui langkah preventif yang terstruktur, sistematis, dan masif,” jelas Carolina.

Selain pengawasan, BNN juga mendorong penguatan edukasi anti narkotika sejak usia dini melalui pembentukan peer educator, integrasi kurikulum anti narkoba di sekolah, deteksi dini, hingga penguatan ketahanan keluarga dan komunitas.

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x