src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Agus Sudibyo. (Foto: istimewa)HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA –Kemampuan mengidentifikasi dan menghindari berita bohong alias hoaks sangat diperlukan oleh masyarakat. Hal ini menjadi tantangan utama para jurnalis untuk menghindarkan kesalahan mengangkat isu atau menyajikan pemberitaan yang mendukung berita hoaks sebagai kebenaran massa. Mengingat tujuan utama produsen hoaks adalah membuat informasi palsu seakan-akan benar dan tepercaya.
Ketua Komisi Hubungan Antarlembaga dan Internasional Dewan Pers, Agus Sudibyo mengungkapkan pada tahun 2015 lalu, tatkala Amerika hendak menyambut Pilpres setahun berikutnya, masif terjadi isu agama dalam pemilihan umum. Bahkan, ini menyebabkan serangkaian demonstrasi di jantung Kota Houston-Texas. Demostrasi berbalas demonstrasi masing-masing kubu, rutin terjadi tiap minggu.
“Delapan bulan sebelum Pilpres, demonstrasi pertama dari kelompok non muslim menolak pembangunan perpustakaan sekaligus masjid di kota tersebut. Dianggap sebagai gerakan islamisasi di Texas, sehingga terjadi demonstrasi bergantian antara yang pro dan tidak pro muslim. Lama-lama membesar dan hampir terjadi bentrokan jika polisi setempat tidak sigap memisahkan,” jelas penulis buku Politik Media dalam Pertarungan Wacana terbitan LKIS tahun 2007 ini dalam Webinar garapan Kantor Berita Antara pada Selasa 29 Desember 2020.
Menurutnya, percekcokan di dunia nyata tersebut dimulai dari percekcokan di dunia maya alias internet. Ada dua fanspage yang terus-menerus beradu argumentasi dan saling melakukan bullying. Kubu pertama menyebut dirinya United Muslim of America (UMA) menuntut kesetaraan hak yang sama dengan warga muslim lainnya. Di kubu sebelah, The Heart of Texas dengan isu menentang Islamisasi di negara bagian tersebut.
Menariknya, enam bulan setelah Pilpres AS berakhir, baru diketahui jika dua fanspage tersebut, baik yang muslim dan anti muslim, sama-sama abal-abal alias palsu. Keduanya dibuat oleh sebuah lembaga Internet Research Agency, ini seperti lembaga think-thank-nya Rusia, atau lembaga milik Presiden Vladimir Putin.
Dua fanspage ini berbulan-bulan mampu menyedot perhatian dan berhasil menghimpun puluhan ribu simpatisan. Ternyata, bukan dibuat orang Amerika sendiri. Malah, oleh orang Rusia dan merupakan operasi intelijen Troll Factory di Saint Petersburg yang bertujuan memecah-belah bangsa Amerika, mempengaruhi Pilpres 2016. “Apapun, isunya yang paling mudah digunakan adalah isu agama,” beber Agus.
IRASIONAL
Penerima Press Freedom Award 2007 dari AJI Indonesia dan DRSP-USAID ini menyebutkan, bukan hanya Indonesia. Negara liberal seperti Amerika pun, jika isu agama yang diangkat, maka masyarakatnya menjadi irasional. Gampang sekali untuk dipengaruhi.
Lanjut Agus, Troll Factory ini mempekerjakan 80 orang, beroperasi tahun 2013 dan mengelola dana yang besar sekali. “Riset yang dilakukan oleh Facebook maupun Komite Intelijen Amerika Serikat, Senat Amerika, menunjukkan Rusia bermain dalam Pilpres 2016. Mereka membentuk kelompok-kelompok percakapan sosial palsu, mengoperasikan 3.000 iklan politik, dan membelanjakan 100.000 USD bahkan jauh lebih besar, setelah digabungkan dengan iklan yang muncul di Youtube, Twitter dan lain-lain,” paparnya.
Masalahnya, lanjut Agus, ketika perpecahan, perselisihan, kepalsuan, kebohongan di media sosial justru merembet ke media massa konvesional. Bukannya dihindari oleh media massa, tetapi media massa justru ikut-ikutan menyebarkan pesan-pesan itu.
Agus menyayangkan fenomena pesan berbau agama, berbau ras, yang tidak terverifikasi kontennya, memecah-belah, tidak saja terjadi di dunia maya. Namun, juga merembet masuk dalam pemberitaan media.
“Ini menjadi banyak kritik yang muncul, terkait bagaimana media-media di Amerika, khususnya televisi dan media online. Bukannya menghindari hoaks atau disinformasi hingga breakingnews dari media sosial, tetapi justru untuk sebagian hal ikut-ikutan menyebarkan. Bukannya menyajikan informasi yang lebih baik, justru terpancing untuk menyebarkan informasi yang tidak jelas keaslian dan kebenarannya. Karena banyak dibaca atau viral sehingga ikut disebar-sebarkan,” sesalnya.
Penulis: RJ Warsa
Editor: MH Amal
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim