src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Belajar Menangkap Momen, Peserta Antusias Belajar Menulis Haiku

Belajar Menangkap Momen, Peserta Antusias Belajar Menulis Haiku

2 minutes reading
Tuesday, 5 May 2026 00:15 2 huldi amal

LANGIT sore tampak begitu cantik, memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti suasana. Di sebuah sudut kafe, belasan orang duduk rapi namun santai, tenggelam dalam suasana hangat dan akrab.

Mereka berkumpul bukan sekadar untuk berbincang, melainkan untuk belajar menulis haiku atau puisi pendek tradisional Jepang yang sarat makna.

Komunitas Gerobooks Berau menggelar kegiatan belajar menulis haiku pada Minggu, 3 Mei 2026, di Pour Cafe pukul 16.00 Wita. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis, sehingga menarik antusiasme peserta dari berbagai kalangan.

Sebelum mulai menulis, para peserta menyimak materi yang disampaikan oleh Dosen dan Peneliti Universitas Muhammadiyah Berau, Muhammad Mahfuzh Huda. Dengan pengalaman pendidikannya di Jepang, ia membagikan pemahaman dasar tentang haiku, mulai dari struktur hingga filosofi di baliknya.

Ia menjelaskan bahwa haiku terdiri dari tiga baris dengan pola suku kata 5-7-5. Lebih dari sekadar bentuk, haiku memiliki ciri khas pada keringkasan dan kemampuannya menangkap keagungan alam dalam ungkapan yang sederhana.

“Haiku menonjolkan kesederhanaan dan keindahan dalam menggambarkan pengalaman manusia atau alam. Dalam tradisi Jepang, biasanya digunakan ‘kata musim’ seperti musim semi, panas, gugur, atau salju,” jelasnya.

Ia juga menyebut bahwa salah satu tokoh haiku klasik yang paling terkenal adalah Matsuo Basho, yang karya-karyanya menjadi rujukan penting dalam dunia sastra haiku.

Setelah pemaparan materi, peserta diajak untuk mengamati lingkungan sekitar, menangkap momen-momen kecil yang sering luput dari perhatian. Dari pengamatan itulah mereka mulai menuliskan haiku di kertas atau buku, mengikuti pola yang telah dipelajari.

“Semua seni dan ekspresi manusia itu sebenarnya bagaimana orang lain bisa melihat atau merasakan hal yang sama,” tuturnya.

Suasana semakin hidup ketika setiap peserta memperkenalkan diri dan membacakan hasil haiku yang telah mereka buat. Ada rasa percaya diri, haru, hingga kegembiraan yang tercermin dari setiap bait yang dibacakan.

Penggerak Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berawal dari keinginan pribadinya untuk belajar menulis haiku. Dari keinginan tersebut, ia kemudian berinisiatif memfasilitasi ruang belajar bersama.

Ia mengaku kegiatan ini memberikan kesan mendalam. Menulis haiku, menurutnya, mengajarkan seseorang untuk lebih peka dalam menikmati suasana dan menangkap momen sederhana. “Biar teman-teman juga merasakan vibes bagaimana menulis haiku itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan momen, suasana, dan perasaan secara jujur melalui karya sederhana. “Saya berharap suatu hari nanti kita bisa membuat kumpulan puisi haiku bersama. Semoga kegiatan ini bermanfaat dan menginspirasi,” pungkasnya. (Riska/**)

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x