src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
(iStock/PeopleImages)HEADLINEKALTIM.CO – Memasuki awal tahun, tidak sedikit orang merasakan perubahan suasana hati yang signifikan. Energi terasa menurun, rutinitas kembali terasa berat, dan semangat yang sempat tinggi di akhir tahun mendadak menghilang. Kondisi ini dikenal sebagai January slump, sebuah fase yang umum terjadi dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.
Dilansir dari CNN Indonesia, January slump merupakan respons alami tubuh dan pikiran setelah melewati periode liburan yang penuh aktivitas sosial, konsumsi berlebih, dan perubahan rutinitas. Saat euforia tersebut berhenti secara tiba-tiba, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Arielle Pinkston, LMFT, menjelaskan bahwa January slump muncul ketika struktur, kebaruan, dan energi sosial yang kuat di bulan Desember mendadak menghilang. Kondisi ini dapat memicu motivasi rendah, kelelahan, brain fog, mudah tersinggung, hingga rasa berat secara emosional maupun fisik.
“January slump adalah kondisi ketika struktur, kebaruan, dan energi sosial di bulan Desember tiba-tiba menghilang,” ujar Arielle Pinkston.
Secara klinis, January slump merupakan kombinasi dari kekecewaan pascaliburan, perubahan biologis akibat musim, serta tekanan psikologis untuk segera “bangkit” di awal tahun. Pada sebagian orang, kondisi ini bahkan bisa tumpang tindih dengan Seasonal Affective Disorder (SAD), meski umumnya January slump bersifat sementara dan dapat diprediksi.
Psikoterapis Daryl Appleton, LMHC, menambahkan bahwa sistem saraf memegang peranan penting dalam January slump. Selama November dan Desember, tubuh terbiasa dengan stimulasi tinggi seperti acara sosial, konsumsi makanan manis, belanja, dan ritme hidup yang cepat. Ketika semua itu berhenti mendadak, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
“Selama November dan Desember, kita hidup dalam stimulasi tinggi. Ketika semuanya berhenti mendadak, sistem saraf butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” jelas Daryl Appleton.
Tekanan resolusi tahun baru juga menjadi pemicu utama January slump. Banyak orang merasa harus mengubah hidup secara drastis di awal Januari. Target yang terlalu ambisius justru berpotensi menimbulkan stres ketika tidak tercapai dalam waktu singkat.
Appleton menjelaskan, kegagalan kecil dalam resolusi, seperti tidak konsisten bangun pagi, dapat ditafsirkan otak sebagai ancaman terhadap harga diri. Akibatnya, yang muncul bukan motivasi, melainkan respons stres yang memperparah January slump.
Selain itu, tubuh juga mengalami semacam penurunan adrenalin. Setelah berbulan-bulan berada dalam mode “bertahan”, tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat. Namun, tekanan sosial justru mendorong individu untuk terus produktif dan bertransformasi, sehingga memperdalam efek January slump.
Penurunan interaksi sosial dan kembalinya rutinitas yang monoton juga berkontribusi terhadap turunnya dopamin. Aktivitas sehari-hari terasa kurang menyenangkan, sementara jam siang yang lebih pendek mengganggu ritme sirkadian serta memengaruhi hormon serotonin dan melatonin yang berperan dalam suasana hati dan kualitas tidur.
Para ahli menyarankan agar January slump dihadapi dengan pendekatan yang lebih lembut dan realistis. Memaksa diri untuk langsung produktif justru berisiko memicu kelelahan berkepanjangan sejak awal tahun.
Langkah pertama menghadapi January slump adalah mengakui perasaan yang muncul tanpa menghakimi diri sendiri. Dengan menerima bahwa kondisi tersebut wajar, individu dapat merespons dengan empati, bukan tekanan berlebih.
Paparan cahaya alami juga dianjurkan untuk membantu mengatur ulang ritme tubuh. Berada di luar ruangan pada pagi hari atau mendapatkan sinar matahari dalam satu jam pertama setelah bangun tidur dapat membantu meningkatkan fokus dan kualitas tidur.
Selain itu, membangun kebiasaan kecil dan konsisten dinilai lebih efektif daripada menetapkan target besar. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki singkat, menjaga pola makan, atau rutinitas ringan dapat membantu tubuh perlahan keluar dari January slump.
Menjaga koneksi sosial tetap penting, namun tanpa tekanan. Interaksi ringan seperti berbincang singkat, ngopi sederhana, atau mengirim pesan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan emosional tanpa menguras energi.
Para ahli menegaskan bahwa January slump bukanlah tanda kegagalan pribadi. Kondisi ini merupakan respons alami tubuh dan pikiran. Dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan, energi dan motivasi akan kembali secara bertahap seiring berjalannya waktu.