src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Studi Ungkap Fakta Mengejutkan: 1 dari 8 Remaja AS Andalkan AI Kesehatan Mental

Studi Ungkap Fakta Mengejutkan: 1 dari 8 Remaja AS Andalkan AI Kesehatan Mental

3 minutes reading
Tuesday, 30 Dec 2025 12:54 77 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – AI kesehatan mental semakin banyak dimanfaatkan oleh remaja dan dewasa muda di Amerika Serikat sebagai tempat mencari saran terkait persoalan psikologis. Tak lagi sekadar alat bantu belajar atau bekerja, AI kesehatan mental kini menjadi alternatif baru dalam menghadapi tekanan emosional dan masalah kejiwaan.

Pada paragraf kedua, dilansir dari CNN Indonesia, tren penggunaan AI kesehatan mental ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah JAMA Network Open pada 7 November 2025. Studi tersebut melibatkan 1.058 responden berusia 12 hingga 21 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan, sekitar 13 persen responden atau setara satu dari delapan anak dan remaja mengaku pernah menggunakan AI kesehatan mental, khususnya chatbot berbasis kecerdasan buatan, untuk memperoleh nasihat psikologis.

Dari kelompok pengguna AI kesehatan mental tersebut, sebanyak 66 persen tercatat mengakses chatbot setidaknya satu kali dalam sebulan. Bahkan, 93 persen responden menilai saran dari AI kesehatan mental cukup membantu dalam menghadapi persoalan yang mereka alami.

Penggunaan AI kesehatan mental paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 18 hingga 21 tahun. Sekitar 22 persen responden di rentang usia ini mengaku pernah meminta saran kesehatan mental melalui chatbot AI.

Para peneliti menilai tingginya minat terhadap AI kesehatan mental dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari biaya yang relatif rendah, akses instan tanpa antrean, hingga persepsi privasi yang lebih terjaga dibandingkan konseling konvensional.

“Selama ini banyak pembicaraan bahwa remaja menggunakan ChatGPT untuk saran kesehatan mental, tetapi sejauh pengetahuan kami, belum ada yang benar-benar mengukur seberapa umum hal ini,” ujar Ateev Mehrotra, penulis studi sekaligus profesor di Brown University School of Public Health.

Mehrotra mengaku terkejut dengan temuan tersebut. Menurutnya, pada akhir 2025, lebih dari satu dari 10 remaja dan dewasa muda telah memanfaatkan AI kesehatan mental berbasis sistem AI generatif.

“Saya menemukan angka ini sangat tinggi, terutama karena prevalensinya lebih besar pada kelompok dewasa muda,” kata Mehrotra.

Meski begitu, para peneliti menegaskan studi ini belum dapat memastikan apakah penggunaan AI kesehatan mental berkaitan dengan gangguan mental yang telah terdiagnosis secara klinis. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memahami dampak AI kesehatan mental pada individu dengan kondisi psikologis tertentu.

“Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana sistem AI kesehatan mental ini bisa benar-benar membantu, namun tetap meminimalkan potensi bahayanya,” ujar Mehrotra.

Ia menambahkan, temuan ini mematahkan anggapan bahwa penggunaan AI kesehatan mental masih sebatas wacana masa depan. Faktanya, teknologi tersebut telah digunakan secara luas oleh generasi muda.

Di sisi lain, meningkatnya pemanfaatan AI kesehatan mental juga memicu kekhawatiran. Sejumlah perusahaan teknologi tengah menghadapi gugatan hukum terkait dugaan bahwa chatbot AI mendorong perilaku menyakiti diri pada pengguna yang sedang berada dalam kondisi rentan.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x