src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ekspos program SIGAP di Kaltim dan Kaltara. (Foto: Ist) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Praktik pembangunan berbasis desa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dinilai mampu menjadi contoh pembangunan hijau yang berjalan seiring dengan perlindungan hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Ekspos Program SIGAP bertema “Simpul Hijau: Merayakan Kolaborasi Pembangunan Daerah dan Desa/Kampung” di Yogyakarta pada Selasa, 12 Mei 2026.
Program SIGAP atau Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan merupakan pendekatan pemberdayaan desa yang dikembangkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sejak 2010. Program ini menitikberatkan pada penguatan tata kelola desa, perhutanan sosial, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani, menyebut praktik pembangunan desa di Kaltim dan Kaltara menunjukkan arah perhutanan sosial yang ideal.
“Akses kelola hutan harus dibangun bersama tata kelola desa yang kuat. Ketika desa didampingi untuk merencanakan dan mengelola sumber daya alamnya, perhutanan sosial dapat menjadi instrumen nyata bagi perlindungan hutan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, SIGAP telah diterapkan di 100 kampung di Kabupaten Berau, 16 desa di Kutai Timur, 18 desa di Bulungan, dan 8 kampung di Mahakam Ulu.
Di Kabupaten Berau sendiri, pendekatan SIGAP telah berkembang melalui program SIGAP Sejahtera yang menjangkau seluruh kampung. Pendampingan dilakukan untuk memperkuat perencanaan pembangunan kampung, pengembangan ekonomi lokal, hingga mendorong integrasi aspek lingkungan dalam kebijakan dan pembangunan desa.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan Akademi Kampung SIGAP menjadi ruang belajar bersama bagi kampung untuk menciptakan kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif. “AKS bukan sekadar program pelatihan, melainkan ruang belajar bersama yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan praktik baik antar kampung,” jelasnya.
Direktur Program Terestrial Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Ruslandi, berharap pendekatan SIGAP dapat direplikasi lebih luas di berbagai daerah di Indonesia guna menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, perlu ada integrasi ke dalam kebijakan nasional agar perubahan dapat terjadi lebih luas dan berkelanjutan. “Pendekatan SIGAP sangat mungkin diterapkan di Sumatera, di Papua atau daerah-daerah lain. Dengan begitu, harapannya, laju deforestasi bisa terjaga dan masyarakat hidup sejahtera,” pungkasnya. (Riska)