HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Budidayakepiting soka di Salok Api Laut berkualitas ekspor terancam. Populasi kepiting tersebut dilaporkan mengalami kematian massal dalam beberapa hari terakhir.
Hal ini disampaikan langsung Lurah Salok Api Laut, Dimas Hamidan Nur, pada Selasa (12/5/2026). Ia mengungkapkan bahwa tingkat kematian kepiting soka telah mencapai angka 65 persen, memicu kerugian besar bagi kelompok pembudidaya setempat.
“Tingkat kematian kepiting soka capai 65 persen dengan tingkat kerugian sampai Rp 200 juta lebih,” jelas Dimas.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi para petambak. Pasalnya, kepiting soka Salok Api Laut selama ini dikenal sebagai komoditas premium dengan pasar ekspor yang cukup luas. Produk hasil tambak dari kawasan tersebut rutin dipasarkan ke sejumlah negara seperti China, Taiwan, Hong Kong hingga Amerika Serikat.
Keberhasilan budidaya kepiting soka di wilayah itu bahkan telah menarik minat sejumlah pembeli besar dari dalam negeri. Salah satu pelanggan tetapnya adalah restoran seafood ternama di Balikpapan.
“Restoran kepiting Dandito Balikpapan termasuk salah satu pembeli kepiting soka dari wilayah kami,” ujarnya.
Lonjakan kematian kepiting soka tentu menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan ekspor kepiting Kukar yang selama ini menjadi salah satu andalan sektor perikanan daerah.
Dimas yang baru menjabat sebagai lurah kurang dari dua pekan kini bergerak cepat menelusuri penyebab insiden tersebut. Bersama para pembudidaya, pihak kelurahan tengah melakukan serangkaian investigasi lapangan, termasuk pengujian kondisi tanah tambak dan evaluasi metode siklus budidaya.
Ia menyebut, dugaan sementara mengarah pada kualitas air tambak yang mengalami penurunan drastis.”Dugaan sementara, airnya sedang tidak baik, tercemar limbah perusahaan,” ungkapnya.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian ilmiah. Untuk memastikan penyebab pasti kematian kepiting soka, sampel air telah diambil untuk diuji di laboratorium.
Pihak perusahaan di sekitar area tambak disebut telah mengambil sampel untuk dilakukan pengujian. Sementara itu, pemerintah kelurahan juga mengajukan uji laboratorium secara independen melalui Sucofindo yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei mendatang.
“Sambil menunggu uji lab di Sucofindo, kami akan koordinasikan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kukar terlebih dahulu, konsultasi penyebab kematian,” katanya.
Langkah ini dinilai penting untuk menyelamatkan budidaya kepiting soka sekaligus mencegah kerugian petambak kepiting semakin membesar.
Tak hanya itu, pihak kelurahan juga menyiapkan pemetaan wilayah melalui pemotretan udara menggunakan drone. Teknologi ini akan digunakan untuk menelusuri pola aliran air di sekitar tambak dan mendeteksi kemungkinan adanya sumber pencemaran dari kawasan sekitar. “Besok(Rabu,red) akan dipotret melalui drone,” pungkasnya. (andri)


