Beranda Kuliner ‘Acil Arab’ Menolak Takluk pada Corona, Pakai Jurus Singkong Goreng dan Empek-Empek

‘Acil Arab’ Menolak Takluk pada Corona, Pakai Jurus Singkong Goreng dan Empek-Empek

Mini University Bank Indonesia - 'Acil Arab' Menolak Takluk pada Corona, Pakai Jurus Singkong Goreng dan Empek-Empek - headlinekaltim.co
Syarifuddin Bin Yunus, pemilik warung Nasi Uduk Acil Arab
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Cukup banyak pelaku usaha yang ‘lempar handuk’ akibat pukulan telak pandemi Covid-19. Terutama pemilik UMKM sektor kuliner. Banyak yang terpaksa menggulung tikar.

Namun, tidak berlaku buat Syarifuddin bin Yunus, pemilik usaha kuliner nasi uduk ‘Acil Arab’ yang berada di Jalan Anggi, tepat di samping lokasi Masjid Islamic Center Samarinda, Kalimantan Timur.

Sejak virus corona asal Wuhan, Cina, merebak di Kota Tepian, usahanya terkena imbas. Segala cara dilakukan untuk tetap bertahan. Dia pun putar otak.

Advertisement

Pria ini lalu berinovasi dengan menawarkan menu baru: camilan singkong dan empek-empek.

Menu camilan singkong goreng.

“Saya tidak mau menyerah. Untuk itu saya bikin inovasi menu baru selain menu andalan, nasi uduk. Sekarang saya juga bikin snack, singkong goreng dan empek-empek. Alhamdulillah banyak peminat,” kata bapak dari 3 orang anak ini saat ditemui headlinekaltim.co.

Menurut dia, bahan baku singkong goreng langsung didatangkan dari Kota Balikpapan. Alasannya, kualitas rasa singkong yang berbeda dengan singkong lain.

Demikian pula empek-empek, bahan-bahan ia ambil dari Kota Bontang. “Singkong saya ini rasanya beda dengan singkong lain. Lebih empuk ketika dimasak. Saat diolahpun, kami mencampur bumbu-bumbu sehingga lebih enak. Kalau empek-empek kami ambil dari Bontang, penyajian pun sama ditambah saus sambal racikan sendiri. Makanya kalau di sini, pelanggan bisa pesan sampai 2 atau 3 porsi sekali makan untuk singkong dan empek-empek,” tuturnya.

Tak hanya menjual singkong goreng dan empek-empek. Menu yang juga naik daun di warung ini adalah nasi telur “acak-acak”. Konsumen sasarannya anak-anak.

“Telur acak-acak ini tetap memakai nasi uduk, lauknya telur yang dimasak orek ditambah saus. Porsinya pun mini, cocok untuk anak-anak. Menu ini kami jual Rp 10.000 per porsi,” katanya lagi.

Lelaki yang akrab disapa SBY di komunitas pengusaha UMKM kuliner ini, mengaku memulai usaha sejak tahun 2018 silam.

Awalnya, ia hanya berjualan di rumah. Lambat laun usahanya kian tumbuh hingga akhirnya membuka warung di lokasi yang ramai.

Untuk mendongkrak usahanya, SBY menerapkan trik berjualan via media sosial (Medsos) dan aplikasi penjualan online yang ia dapatkan dari Mini University Bank Indonesia. Nama ‘Acil Arab’ sendiri diambil dari julukan istrinya sehari-hari.

Soal omzet, SBY mengakui penjualannya menurun sejak pandemi hingga 50 persen. Bahkan, dia merumahkan 3 karyawannya sementara waktu.

“Kalau sebelum pandemi saya bisa dapat omzet hingga Rp 2 juta lebih per hari, tapi sekarang ini hanya Rp 1 jutaan per hari. Terpaksa juga karyawan dirumahkan,” pungkasnya.

Penulis: Ningsih

Komentar