24.4 C
Samarinda
Saturday, June 25, 2022

Wabah PMK, Kabupaten Berau Masuk Wilayah Terduga

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Putu Setion menyampaikan, Kabupaten Berau masuk dalam kategori wilayah terduga terkait wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak.

Dia menyebutkan ada tiga kategori wilayah. Yaitu, bebas, terduga, dan tertular. Untuk sementara, belum ada hewan ternak yang ditemukan terjangkit wabah tersebut.

“Lantaran wabah PMK ini telah masuk ke wilayah Kalteng yang merupakan satu daratan dengan Kaltim, maka Kabupaten Berau masuk dalam kategori terduga,” tuturnya pada Jumat, 13 Mei 2022.

Pihaknya sudah melakukan antisipasi menindaklanjuti surat edaran Menteri Pertanian Nomor 10/SE/PK.300/M/5/2022 perihal Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak.

Beberapa waktu lalu, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada kelompok ternak maupun pelaku usaha juga mendatangi beberapa lokasi para peternak di kecamatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan.

“Untuk pemeriksaan di wilayah terjauh dilakukan oleh Puskeswan,” bebernya.

Dijelaskannya, wabah PMK hanya menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, domba, dan babi. Nantinya, hewan ternak akan diperiksa kaki dan mulutnya. Jika di kuku, mulut, dan lidah melepuh, maka dapat dikatakan hewan ternak tersebut terkena wabah PMK.

Menurut Dokter hewan Distanak Berau, Muhammad Rofi’ Prasetya sebenarnya PMK ini bukan penyakit hewan yang bisa menular ke manusia. Hanya saja dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para peternak.

“Kemarin saya dapat edaran dari Kementan, sapi yang terkena PMK masih bisa dikonsumsi hanya saja perlu mengelola daging secara higienis dengan sanitasi yang bagus serta direbus secara matang,” jelasnya.

Wabah PMK ini disebabkan virus yang menyerang mulut dan kuku hewan ternak. Penularannya melalui udara. Bahkan, bekas hewan ternak di dalam kandang juga bisa menulari hewan ternak yang lain.

“PMK ini ditandai dengan demam, luka lepuh pada kaki, mulut, atau moncong, tidak nafsu makan, hipersalivasi atau air liur berlebihan dan mulut terbuka,” tambahnya.

Untuk cara pencegahannya, peternak diminta memantau dan melaporkan jika ada hewan yang sakit. Mengontrol penggabungan hewan ternak baru, serta membersihkan kandang, kendaraan, dan peralatan ternak secara teratur.

Penulis: Riska

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU