src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO – Seiring pertumbuhan anak, orangtua kerap dihadapkan dengan tantangan besar: anak yang cenderung pilih-pilih makanan. Hal ini dapat berpotensi mengganggu asupan nutrisi penting untuk tumbuh kembang si kecil. Menurut Dokter Spesialis Anak, Fitria Mahrunnisa, mencegah kebiasaan ini bisa dimulai dengan pengenalan beragam makanan sejak dini.
Dalam wawancara yang dikutip dari Antara dilansir Kompas.com, Fitria menegaskan pentingnya pengenalan beragam makanan pada masa MPASI (Makanan Pendamping ASI). “Cara utama tetap mengenalkan beragam makanan dari mulai awal MPASI dengan menetapkan feeding rules (aturan makan) dan responsive feeding (pemberian makan responsif) untuk anak,” jelasnya.
Dalam fase MPASI ini, anak-anak diperkenalkan pada berbagai rasa dan tekstur. Ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan gizi, melainkan juga untuk membiasakan mereka agar tidak hanya terpaku pada satu jenis makanan. Ketika anak terbiasa dengan berbagai macam makanan sejak dini, risiko menjadi picky eater atau pemilih makanan akan berkurang.
Penerapan feeding rules adalah kunci dalam membentuk pola makan sehat. Fitria menyarankan agar orangtua menetapkan aturan makan sejak masa MPASI, di mana anak dihadapkan pada beragam jenis makanan dan konsistensi tekstur yang sesuai dengan usia mereka. Dengan demikian, anak bisa belajar mengenali dan menerima berbagai rasa.
“Anak dapat diberikan makanan padat kalori seperti gadon sapi, perkedel kentang daging dan telur, puding jagung susu keju,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan tekstur makanan. Jika orangtua terlambat menaikkan tekstur makanan, anak bisa mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut) yang menyulitkan proses makan.
Satu tantangan yang sering muncul saat anak memasuki usia satu tahun adalah kebiasaan memilih makanan. Pada usia ini, anak mulai merasa mandiri dan menunjukkan preferensi terhadap makanan tertentu, sering kali makanan yang ia sukai saja. Namun, Fitria memberikan solusi, “Jika anak sudah telanjur punya kebiasaan memilih makanan, orangtua bisa membangun kembali kebiasaan makan anak dengan mencampurkan makanan kesukaan mereka dengan jenis makanan yang lain.”
Contohnya, jika anak menyukai makanan manis, seperti buah-buahan, orangtua dapat memanfaatkannya dengan mengombinasikannya dengan makanan lain, seperti membuat ayam nanas atau mango sticky rice. Kreativitas dalam mengubah rasa, tekstur, dan bentuk makanan sangat dianjurkan agar anak mau mencoba sesuatu yang baru.
Fitria juga menyoroti bahwa kebiasaan anak makan nasi bisa membuat mereka cepat bosan. Oleh karena itu, mengenalkan sumber karbohidrat lain sangat penting. “Anak-anak perlu dikenalkan pada beragam sumber karbohidrat selain nasi, seperti kentang dan jagung,” ujarnya.
Variasi makanan tidak hanya penting untuk menghindari kebosanan, tapi juga untuk memperkaya asupan nutrisi yang diperoleh anak dari berbagai sumber.
Dalam proses mengenalkan makanan baru, kesabaran menjadi kunci utama. Fitria menyebut bahwa tidak jarang anak akan menolak makanan baru dalam beberapa kali percobaan. “Upaya untuk mengenalkan jenis makanan baru membutuhkan waktu. Anak yang semula menolak diberi jenis makanan baru mungkin bisa menerimanya setelah 10 sampai 12 kali pemberian,” katanya.
Artinya, orangtua perlu bersabar dan konsisten dalam memberikan variasi makanan kepada anak, hingga akhirnya anak bisa menerimanya dengan baik.
Suasana makan yang menyenangkan dan bervariasi juga tak kalah penting dalam mencegah anak menjadi picky eater. Fitria menyarankan agar orangtua menghadirkan menu yang kreatif dan suasana makan yang menyenangkan, sehingga anak tidak hanya terpaku pada makanan favoritnya saja.
Artikel Asli baca di Kompas.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim