src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Teks Foto: Suwanti (52), salah satu pedagang sayur di Pasar Merdeka Samarinda. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Harga cabai rawit (lombok) di Pasar Merdeka, Jalan Merdeka, Samarinda, mengalami penurunan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sempat melonjak tinggi saat momen hari besar keagamaan, kini harga justru turun hingga menyentuh titik terendah. Namun, kondisi ini tidak serta-merta berdampak positif bagi pedagang, karena daya beli masyarakat justru ikut melemah.
Suwanti (52), salah satu pedagang sayur di Pasar Merdeka, mengungkapkan harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan saat hari raya Iduladha lalu ketika harga sempat melonjak tajam. “Waktu lebaran haji sempat Rp80 ribu per kilo. Sekarang paling murah sudah Rp30 ribu,” ujarnya, Kamis 16 Juli 2026.
Sebelum turun ke harga saat ini, kata dia, cabai rawit sempat berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Penurunan harga yang terjadi membuat posisi saat ini menjadi yang terendah dalam beberapa waktu terakhir, meski masih dianggap wajar oleh pedagang.
“Ini paling rendah Rp30 ribu. Sebelumnya sempat Rp40 ribu, Rp45 ribu, sampai Rp50 ribu. Sekarang ya masih tidak rugi juga,” katanya.
Meski harga cenderung lebih terjangkau, Suwanti mengaku kondisi tersebut tidak diiringi dengan peningkatan jumlah pembeli. Justru sebaliknya, aktivitas transaksi di pasar disebut mengalami penurunan cukup terasa dibandingkan saat harga tinggi.
Menurutnya, fenomena ini sudah beberapa kali terjadi, di mana saat harga cabai mahal, permintaan justru meningkat. Sebaliknya, ketika harga turun, minat beli masyarakat cenderung melemah. “Pembeli sekarang malah berkurang. Kalau lombok mahal itu banyak yang cari, tapi kalau murah malah tidak,” ungkap Suwanti.
Kondisi tersebut membuat pedagang lebih berhati-hati dalam mengambil stok barang dagangan. Suwanti mengaku tidak berani menyimpan cabai dalam jumlah besar dan memilih berbelanja sesuai kebutuhan harian agar perputaran modal tetap terjaga.
Ia menyebutkan, stok biasanya langsung dihabiskan dalam sehari, kemudian kembali mengambil pasokan keesokan harinya. Pola ini dilakukan untuk menghindari kerugian akibat barang tidak terjual. “Kalau habis, besok pagi ambil lagi. Tidak banyak ambil barang, karena dipakai mutar uangnya,” jelasnya.
Namun, ia memastikan ketersediaan barang masih cukup, meski jumlah pembeli tidak sebanyak sebelumnya. Di tengah fluktuasi harga tersebut, pedagang berharap kondisi daya beli masyarakat dapat kembali pulih agar aktivitas jual beli di pasar tradisional bisa kembali normal. “Kalau lombok mahal itu banyak yang nyari lombok, tapi kalau murah malah enggak, sepi pembelinya,” tandas Suwanti. (Retno)