src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
ilutrasi AIHEADLINEKALTIM.CO – Mitos bulan Safar masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Muslim hingga kini. Bulan kedua dalam kalender Hijriah itu kerap dikaitkan dengan kesialan, musibah, hingga larangan melakukan aktivitas penting. Namun, benarkah anggapan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam?
Dilansir dari CNN Indonesia, keyakinan mengenai mitos bulan Safar sebenarnya telah ada sejak masa masyarakat Arab jahiliah. Dalam Islam, anggapan bahwa Safar merupakan bulan pembawa sial tidak memiliki dasar syariat dan telah diluruskan langsung oleh Rasulullah SAW.
Mengutip penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Dalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibnu Mandzur, kata Safar memiliki dua makna, yakni kosong (shafar) dan kuning (shufrah).
Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lampau yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian atau berperang sehingga permukiman menjadi kosong.
Dalam kitab Al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam juga dijelaskan bahwa kondisi itu membuat masyarakat menyebut kota mereka menjadi kosong karena banyak penduduk yang pergi.
Salah satu mitos bulan Safar yang paling dikenal adalah anggapan bahwa bulan ini membawa nasib buruk. Karena keyakinan tersebut, sebagian orang memilih menunda berbagai rencana penting, seperti pernikahan, pindah rumah, hingga memulai usaha.
Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada satu pun bulan yang secara khusus membawa kesialan.
Mitos lain yang masih berkembang adalah larangan bepergian pada bulan Safar karena diyakini berpotensi mendatangkan musibah atau kecelakaan.
Islam mengajarkan bahwa keselamatan seseorang bukan ditentukan oleh waktu atau bulan tertentu, melainkan atas kehendak Allah SWT disertai ikhtiar manusia.
Sebagian masyarakat juga menganggap Safar sebagai bulan yang identik dengan penyakit dan berbagai wabah.
Padahal, sakit maupun sehat merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Tidak ada dalil yang menyebut Safar memiliki pengaruh khusus terhadap datangnya penyakit.
Mengutip penjelasan Universitas Islam Indonesia (UII), Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan masyarakat Arab jahiliah mengenai bulan Safar melalui sebuah hadis.
“Tidak ada penularan (penyakit) tanpa izin Allah, tidak ada kepercayaan terhadap burung sebagai penentu nasib, tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220).
Hadis tersebut menegaskan bahwa mitos bulan Safar tidak memiliki landasan dalam syariat Islam. Baik dan buruknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh datangnya bulan tertentu, melainkan oleh ketetapan Allah SWT, amal perbuatan, serta doa yang dipanjatkan.
Allah SWT juga menjelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah dua belas bulan, dengan empat di antaranya merupakan bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Safar tidak termasuk dalam empat bulan yang memiliki keistimewaan khusus. Karena itu, tidak ada alasan untuk menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa petaka.
Bagi umat Islam, meluruskan mitos bulan Safar merupakan bagian dari menjaga kemurnian akidah. Daripada mempercayai anggapan yang tidak memiliki dasar syariat, bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak zikir, sedekah, menuntut ilmu, serta memperkuat tawakal kepada Allah SWT.