26.4 C
Samarinda
Senin, April 19, 2021

Swasembada Cabai Sulit Terwujud di Kukar

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Terkenal sebagai lumbung pangan Kaltim, Kukar kini mengupayakan menuju swasembada cabai. Saat ini, hampir 60 persen kebutuhan cabai masih didatangkan dari Sulawesi.

Meski begitu, Kukar miliki keunggulan lain berupa komoditas beras dan umbi-umbian. “Bisa ditanyakan ke pasar besar Loa Janan, itu Cabai didatangkan dari mana, rata-rata pedagang sebut dari Sulawesi, ” jelas Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kukar, Muhammad Wahly, Jumat 26 Februari 2021.

Wahly menyebut, Kukar sulit swasembada cabai, karena petani yang menanam komoditas ini dalam jumlah besar masih sangat sedikit dan kurangnya ketertarikan petani menanam cabai karena butuh perawatan tak murah.

“Cabai itu butuh biaya perawatan yang mahal, dan resiko gagal panennya juga tinggi,” ucap Wahly.

Dirinya menyebut, justru petani Kukar masih senang menanam padi dan jenis sayuran lainnya. Kalau untuk urusan beras, jangan diragukan Kukar sudah swasembada, produksi melebihi kebutuhan masyarakat Kukar.

“Makanya, beras Kukar ada yang dijual ke Bontang, Samarinda dan Balikpapan, ” ucapnya.

Baca Juga  ODGJ Terlama Ditampung Sejak 2017

Cuma sangat disayangkan menurut Wahly, terkadang beras Kukar yang masuk ke daerah lain, diganti dengan kemasan yang baik, seolah-seolah beras tersebut bukan dari Kukar.

“Kalau model seperti itu, beras Kukar kurang dikenal, ” paparnya.

Produksi beras yang banyak di Kukar, terkadang juga petani alami kesulitan dalam menjual beras. Tapi, bagi petani yang sudah punya jaringan pembeli beras skala besar, sangat mudah untuk menjual beras.

Baca Juga  Besok, AYL-Suko Bawa Perbaikan Kekurangan Berkas Pencalonan ke KPU Kukar

“Terkadang ada juga, petani yang tidak mau menjual ke para tengkulak, dengan pertimbangan harga yang dibawah pasaran. Kalau menjual ke perorangan agak lama lakunya, ” jelasnya.

Tugas pokok badan ketahanan pangan menurut Wahly, memantau dan mengawasi di lapangan, kondisi cadangan pangan daerah dalam kondisi aman dan normal.

“Jika produksi pangan alami kendala, maka akan dilakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan(Distannak) agar produksi kembali dinormalkan,” tandasnya.

Penulis: Andri

Editor: Amin

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar