src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Pembelajaran Virtual Daring Buat Siswa Stres dan Jenuh, Ini Langkah Antisipasi SMAN 2 Sebulu

Pembelajaran Virtual Daring Buat Siswa Stres dan Jenuh, Ini Langkah Antisipasi SMAN 2 Sebulu

3 minutes reading
Wednesday, 3 Mar 2021 16:30 348 Muhammad Yamin

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Pembelajaran virtual daring selama pandemi COVID-19, membuat beberapa siswa SMA Negeri 2 Sebulu mengalami jenuh dan stres.

Kepala SMAN 2 Sebulu, Fadli Yulizannur mengatakan beberapa siswa sudah ingin berhenti sekolah karena jenuh.

Untuk itu, pihaknya kini berupaya antisipasi masalah tersebut. Dengan menerapkan mendatangi rumah murid untuk memberikan pembelajaran secara langsung.

Pembelajaran secara tatap muka, diakui Fadli, sementara sangat efektif meningkatkan pemahaman materi pembelajaran. Sedangkan pembelajaran virtual daring belum tentu efektif.

“Saat guru mendatangi murid, si murid sangat senang lakukan pembejaran tatap muka di rumah, ” jelas Fadli, Rabu 3 Maret 2021.

Selama lakukan pembelajaran daring, pihak sekolah sebut Fadli, sudah memberikan bantuan paket pulsa dan data internet kepada 530 murid SMAN 2 Sebulu, namun dinilai juga tidak efektif.

“Paket data yang kami bantu, malah untuk main game online jadi cepat habis, akhirnya anak banyak minta ke orang tua yang rata-rata sebagai petani, ” ucap Fadli, yang pernah jabat Kepala SMAN 1 Kota Bangun ini.

Tapi, bagi siswa yang orang tuanya tidak punya ponsel Android, pihak sekolah memberikan pilihan, untuk datang ke sekolah menggunakan fasilitas Wifi sekolah, atau sekedar banyak membaca buku di perpustakaan sekolah, agar pembelajaran jangan sampai terputus.

“Dan akhirnya ada juga yang datang ke sekolahan untuk belajar. Guru sekolah stand by di sekolah, dari pukul 08.00 Wita s/d 16.00 Wita,” ujarnya.

Fadli memaparkan, guru SMAN 2 Sebulu pengabdiannya sangat luar biasa, demi suksesnya pembelajaran, guru rela mengambil tugas murid di daerah terjauh, padahal guru yang bersangkutan sudah lumayan sudah usia lanjut.

“Guru rela mengambil tugas siswa di Desa Benamang Kecamatan Muara Kaman, yang membutuh waktu perjalanan 1 jam lebih. Memang siswa kami bukan hanya dari Sebulu, dari Muara Kaman juga ada, ” cerita Fadli.

Dia melanjutkan, beberapa siswanya sudah ada yang mau berhenti sekolah, karena sudah bosan dengan pembelajaran online, dan mengambil pilihan bekerja sebagai buruh kasar perkebunan atau tukang bangunan.

Melihat itu, pihak sekolah membujuk, agar tidak berhenti sekolah demi masa depan. Alasan murid mau berhenti sekolah, kalau pembelajaran daring membutuhkan banyak dana, sedangkan kalau tidak bekerja, beli paket data dari mana.

“Saya kasih saran, jika lanjutkan sekolah, lebih bagus lagi kuliah, diharapkan tidak menjadi pekerja kasar kedepannya, ” ucapnya.

Namun ada saja murid yang berhenti sekolah, dengan alasan mau menikah, kalau sudah mau menikah mau di apakan lagi, ini tidak bisa dicegah. Fadli selalu memberikan motivasi kepada guru-guru disaat pandemi COVID-19 untuk tetap selalu jaga imun jangan stres, sehingga mudah terkonfirmasi positif Corona.

“Terserah mau pakai sistem pembelajaran apa saja, yang penting materi tersampaikan ke murid, dan murid faham dari pembelajaran yang disampaikan,” pungkasnya.

Penulis: Andri

Editor: Amin

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x