src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Dua bocah laki-laki yang dilaporkan tenggelam di perairan Sungai Mahakam, kawasan Teluk Lerong, Kecamatan Samarinda Ulu, ditemukan pada Sabtu (7/11/2026) dini hari. (Foto: Istimewa)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Operasi pencarian dua bocah laki-laki yang dilaporkan tenggelam di perairan Sungai Mahakam, kawasan Teluk Lerong, Kecamatan Samarinda Ulu, berakhir pada Sabtu, 7 November 2026 dini hari. Kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian selama kurang lebih 36 jam.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Aries Setiawan, mengatakan kedua korban ditemukan sekitar pukul 02.20 Wita. Penemuan korban pertama dan kedua hanya berselang sekitar lima menit, dengan jarak kurang lebih 10 meter dari lokasi kejadian perkara (LKP).
Aries menjelaskan, saat proses penemuan berlangsung, sebagian personel SAR gabungan tengah beristirahat. Meski demikian, sejumlah petugas tetap disiagakan untuk memantau area pencarian melalui jalur darat.
“Tim SAR gabungan yang berada di lapangan menemukan kedua korban pada pukul 02.20 Wita. Selang waktu antara penemuan korban pertama dan kedua kurang lebih lima menit, dengan jarak dari LKP menuju titik penemuan sekitar 10 meter,” ungkap Aries.
Setelah ditemukan, kedua korban langsung dievakuasi dari perairan dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda untuk penanganan lebih lanjut.
Pencarian telah berlangsung sejak kedua bocah tersebut dilaporkan tenggelam pada Kamis, 5 November 2026 sekitar pukul 16.45 Wita. Dengan ditemukannya kedua korban, operasi SAR gabungan yang melibatkan sejumlah unsur terkait resmi dihentikan.
“Untuk saat ini, operasi SAR gabungan kami tutup karena kedua korban sudah berhasil ditemukan,” katanya.
Di balik berakhirnya operasi pencarian tersebut, Aries mengingatkan masyarakat, khususnya para orang tua, agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak ketika beraktivitas di sekitar sungai maupun perairan terbuka.
Ia menekankan, kemampuan berenang tidak serta-merta membuat anak aman ketika berada di air tanpa pendampingan orang dewasa. Karena itu, orang tua diminta tidak membiarkan anak berenang atau bermain air sendirian.
“Masyarakat Samarinda yang memiliki putra-putri, kami harapkan selalu melakukan pemantauan, khususnya berkaitan dengan aktivitas anak di sekitar air. Walaupun anak sudah bisa berenang, jangan pernah membiarkan mereka berenang sendiri tanpa pantauan orang tua atau orang dewasa lainnya,” imbaunya.
Selain pengawasan keluarga, Aries juga berharap Pemerintah Kota Samarinda memberikan perhatian terhadap aspek keselamatan di kawasan Teluk Lerong. Menurutnya, lokasi tersebut telah beberapa kali menjadi tempat terjadinya insiden serupa.
Ia mengusulkan agar pemerintah memasang safety barrier atau pagar pembatas untuk membatasi akses masyarakat menuju titik yang dinilai rawan. Pemasangan papan peringatan juga diperlukan sebagai langkah pencegahan agar warga, terutama anak-anak, tidak leluasa mendekati area berbahaya.
“Harapannya ke depan ada safety barrier, minimal pagar yang membatasi akses menuju titik tersebut. Di samping itu, papan pengumuman atau imbauan juga perlu dipasang sebagai peringatan awal agar tidak ada akses bebas ke lokasi yang dimaksud,” demikian Aries Setiawan. (Retno)