src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
(FOTO:AFP/ATTA KENARE) HEADLINEKALTIM.CO – Lonjakan harga minyak dunia menjadi sorotan setelah harga minyak mentah melonjak tajam. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Dilansir dari CNN Indonesia, harga minyak mentah dunia resmi menembus level US$100 per barel pada Minggu, 8 Maret 2026. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Harga minyak acuan Brent tercatat naik signifikan sebesar 12,63 persen hingga mencapai sekitar US$104 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat juga melonjak lebih tinggi dengan kenaikan sekitar 14,7 persen.
Kenaikan tajam harga minyak dunia tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat berdampak panjang terhadap distribusi minyak global, khususnya dari wilayah yang menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Gejolak di pasar energi juga berdampak pada pasar saham Amerika Serikat. Indeks Dow Jones tercatat merosot hingga 851,6 poin atau sekitar 2 persen. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 1,73 persen dan Nasdaq melemah sekitar 1,65 persen.
Penurunan indeks saham ini dipicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi di Amerika Serikat serta menekan stabilitas ekonomi.
Lonjakan harga minyak dan gas yang berlangsung dalam jangka panjang juga berpotensi memperburuk masalah biaya hidup masyarakat di AS. Situasi tersebut menempatkan Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik dalam posisi politik yang sensitif menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections tahun ini.
Meski demikian, pemerintah AS berupaya menenangkan kekhawatiran pasar terkait dampak konflik terhadap harga bahan bakar. Trump mengatakan kepada ABC News bahwa lonjakan harga bensin yang terjadi hanya bersifat sementara.
Trump menyebut lonjakan harga tersebut sebagai “gangguan kecil” dan menggambarkan kondisi pasar energi saat ini sebagai sebuah “pengalihan” atau detour yang sebenarnya telah diperkirakan sebelumnya.
Dalam program “State of the Union” di CNN, Menteri Energi AS Chris Wright juga menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk menyerang industri minyak Iran maupun fasilitas infrastruktur energi lainnya.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran memperingatkan bahwa konflik yang terjadi telah memasuki fase baru setelah serangan Israel. Ia memberi sinyal kemungkinan adanya serangan balasan yang dapat menyasar infrastruktur energi di kawasan tersebut.
“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai,” ujar pejabat tersebut, Minggu (8/3).
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Ancaman Iran untuk menyerang kapal tanker yang melintas di wilayah tersebut berpotensi mengganggu lalu lintas pengiriman minyak global.
Kondisi ini membuat sebagian produsen minyak menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan karena distribusi terhambat. Akibatnya, sejumlah produsen mulai mempertimbangkan pengurangan produksi minyak mereka.
Di Indonesia, pemerintah juga telah mengantisipasi dampak lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap keuangan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pihaknya telah melakukan simulasi risiko terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Menurut perhitungan Kementerian Keuangan, tekanan terhadap fiskal berpotensi terjadi jika harga minyak rata-rata mencapai US$92 per barel sepanjang tahun. Angka tersebut jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran US$60 per barel.
Dalam skenario tersebut, defisit APBN diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).