src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Rupiah Tertekan, Melemah ke Rp16.837 Akibat Lonjakan Harga Emas dan Isu Perang Tarif

Rupiah Tertekan, Melemah ke Rp16.837 Akibat Lonjakan Harga Emas dan Isu Perang Tarif

waktu baca 3 menit
Kamis, 17 Apr 2025 12:57 1062 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan. Pada penutupan perdagangan Rabu (16/4/2025), rupiah ditutup melemah sebesar 0,06 persen atau 10 poin, menjadi Rp16.837 per dolar AS. Pelemahan ini diperkirakan masih akan berlanjut pada perdagangan hari ini, Kamis (17/4/2025), seiring meningkatnya harga emas global dan ketidakpastian geopolitik serta ekonomi global.

Analis pasar uang Ariston Tjendra menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama melemahnya rupiah saat ini adalah naiknya harga emas dunia ke level tertinggi sepanjang sejarah. Pagi ini, harga logam mulia tersebut mencapai USD3.300 per troy ounce, atau sekitar Rp55.506.000 per troy ounce berdasarkan kurs rupiah saat ini.

“Rupiah masih berpotensi melemah hari ini terhadap dolar AS karena harga emas yang terus naik. Sehingga rupiah sebagai salah satu aset berisiko mendapat sentimen pelemahan,” ujar Ariston Tjendra dalam analisanya, Kamis (17/4/2025).

Kenaikan harga emas biasanya menjadi indikator meningkatnya risk-off sentiment atau kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global, yang membuat mereka beralih ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS, meninggalkan aset berisiko seperti rupiah.

Tidak hanya faktor emas, kondisi geopolitik dan kebijakan proteksionis dari Amerika Serikat juga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ariston menyebutkan bahwa kebijakan tarif Donald Trump terhadap Tiongkok yang kembali mencuat, telah menimbulkan kekhawatiran di pasar global.

“Perang tarif antara dua negara besar, AS dan Tiongkok menjadi kekhawatiran pasar,” katanya.

Kekhawatiran ini, menurut Ariston, juga tersirat dalam pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell, yang mengkhawatirkan potensi kenaikan harga (inflasi) akibat kebijakan tersebut.

Dampak dari perang tarif dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga barang-barang impor, yang berujung pada inflasi tinggi di AS. Jika ini terjadi, maka akan memperkecil peluang Federal Reserve (The Fed) untuk kembali memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.

“Jika terjadi kenaikan harga yang terus menerus atau inflasi, maka tidak ada peluang The Fed memangkas suku bunga lagi. Jika ini terjadi, rupiah akan tertekan terhadap dolar AS,” jelas Ariston.

Kondisi tersebut tentu menjadi pukulan bagi negara berkembang seperti Indonesia, karena suku bunga tinggi di AS membuat investor lebih memilih menanamkan dananya di pasar Amerika, ketimbang pasar negara berkembang.

Dengan kombinasi faktor-faktor global yang tidak menguntungkan tersebut, Ariston memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh kisaran Rp16.900 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. Namun demikian, ada kemungkinan support level di sekitar Rp16.800, jika ada intervensi pasar atau sentimen positif yang muncul.

Artikel Asli baca di rri.co.id

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x