src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> RS Korpri Dibangun di Daerah Resapan Air, Begini Penjelasan Dinas Lingkungan Hidup Samarinda

RS Korpri Dibangun di Daerah Resapan Air, Begini Penjelasan Dinas Lingkungan Hidup Samarinda

4 minutes reading
Sunday, 26 Sep 2021 15:53 569 Muhammad Yamin

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Gubernur Kaltim Isran Noor mendukung penuh pembangunan rumah sakit (RS) Korpri yang berada di Jalan Wahid Hasyim I Sempaja.

“Senin (tanggal 27 September 2021, red) akan dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit Korpri di Sempaja. Itu juga diperlukan, bahkan kita sudah merencanakan sejak 2 tahun lalu untuk membangun dan rehab RS Umum AWS dengan program multi years. Karena sekarang dan nanti, rumah sakit diperlukan,” ujarnya pada acara peletakan batu pertama pembangunan RS Mata, Jumat kemarin.

Namun terungkap bahwa, surat izin persetujuan lingkungan untuk pembangunan RS Korpri baru diurus pada tanggal 22 September 2021 lalu.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Nurrahmani saat ditemui headlinekaltim.co di ruang kerjanya.

“Ini baru diurus dan sudah jalan. Jadi sesuai urutannya, mereka menyelesaikan Pertek (Persetujuan teknis, red) dulu baru izinnya masuk. Kalau dulu izinnya bisa, Pertek lain tapi sekarang jadi satu. Kalau rumah sakit ada izin limbah B3 limbah cair, itu diselesaikan dulu, baru dokumen masuk,” ujarnya Rabu lalu.

Mengenai lokasi pembangunan RS Korpri yang berada di daerah banjir, dikatakan Nurrahmani, hal itu sudah menjadi pertimbangan dan keputusan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim. Namun fakta banjir yang terjadi setiap hujan, dibenarkannya.

“Di situ kan memang daerah resapan air. Kemarin banyak yang cerita, kok bangun di situ?Tapi itu menjadi kesepakatan bersama, maka ada treatment khusus yang disiapkan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Provinsi Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda saat dikonfirmasi headlinekaltim.co mengenai pengurusan izin persetujuan lingkungan pembangunan RS Korpri, tak menampik hal tersebut baru dilakukan. Namun dirinya memastikan hal tersebut tidak akan bermasalah.

Selain itu, kata dia, secara teknis untuk pembangunan telah memenuhinya persyaratan. Bahkan diyakinkan, pembangunan RS Korpri akan memberikan dampak mengurangi terjadinya banjir.

“Ya. Secara teknis itu sudah memenuhi syarat semua. Kemudian bangunan juga sudah didesain untuk ranah banjir, jadi penyerapannya nanti tidak mati, ada pori,” ujarnya.

“Di halaman ada pori, di lantai dasar juga ada tampungan air bahkan jumlah debit air yang dihasilkan seandainya tidak ada bangunan, itu masih lebih besar dibandingkan jika ada bangunan. Jadi malah mereduksi, walaupun jumlahnya tidak banyak. Tapi kalau mengakibatkan banjir, jelas tidak karena sudah didesain ramah lingkungan. Insyaallah aman,” ucapnya, usai mendampingi Gubernur Kaltim Isran Noor melakukan peletakan batu pertama pembangunan RS Mata, Jumat kemarin.

Disinggung mengenai pembangunan RS Korpri yang terkesan terburu-buru hingga menimbulkan banyak pertanyaan publik, termasuk DPRD Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda membantah hal tersebut. Menurutnya, pembangunan RS Korpri telah mendapat lampu hijau, baik dari Pemprov Kaltim maupun Pemkot Samarinda.

“Wajar saja, secara pararel itu. Kan ini pemerintah, dibangun pemerintah dan perizinan oleh pemerintah dan sudah dilakukan komunikasi antara Pemprov dan Pemkot. Diyakinkan bahwa secara teknis bangunan ini memenuhi syarat, tidak ada salahnya pararel ini,” katanya.

Pun terkait target waktu pengerjaan hingga penyelesaian rumah sakit yang diberi waktu sampai Desember 2021, dirinya optimis itu terlaksana sesuai jadwal. Namun menurutnya, jika pengerjaan terlambat dari batas waktu yang disepakati, maka pihak kontraktor siap menerima sanksi berupa denda penalti.

“Mohon doanya. Harus yakin selesai. Kalau tidak selesai kan ada mekanismenya, denda berjalan. Jadi kontraktor tetap kena penalti, dia bayar denda terus per hari selama terlambat itu. Makanya otomatis kontraktor mati-matian dia mengerjakan siang malam,” ujarnya.

“Intinya, dimaksimalkan, jumlah pengawas ditambah. Kalau namanya crash program siang malam bisa sampai 2 shif atau kalau memungkinkan sampai 3 shif. Dendanya itu 1 perhari, tergantung keterlambatannya, tergantung nilai kontrak, tergantung nilai keterlambatan,” sambungnya.

Terkait dengan pemilihan lahan rumah sakit yang berada di daerah banjir, Aji Muhammad Fitra menjelaskan bahwa, pihaknya bersama dengan PU Kota dan instansi terkait terus berupaya melakukan penanggulangan banjir di seluruh wilayah, termasuk lokasi sekitar RS Korpri. Selain itu, faktor lainnya adalah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Sempaja dan sekitarnya.

“Meningkatkan pelayanan daerah sana. Rumah sakit daerah sana di mana? Jauh kan. Seperti Bengkuring dan sekitarnya. Untuk sebarannya rumah sakit pas saja. Kalau banjir, kita pelan-pelan kita tangani, walaupun selesainya kapan karena masalah banjir ini kan banyak pihak, tidak hanya Pemprov tapi juga Pemkot dan pihak terkait. Dan ini terus kita berusaha bersama-sama mengurangi banjir, termasuk banjir yang daerah sana. Yang jelas untuk bangunan tidak akan menambah banjir, justru mengurangi. Walaupun tidak signifikan untuk mengurangi, tapi tidak menambah,” pungkasnya.

Penulis : Ningsih

LAINNYA
x