Beranda Berita Berau Puncak La Nina, Picu Longsor Hingga Berpotensi Tsunami

Puncak La Nina, Picu Longsor Hingga Berpotensi Tsunami

Kepala BMKG Tekad Sumardi (foto: Sofi/headlinekaltim.co)

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Bencana alam terjadi di beberapa wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Kalimantan Timur pun potensi bencana, tak terkecuali di Berau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau, memprediksi curah hujan tinggi di wilayah Kalimantan Timur termasuk Kabupaten Berau, saat ini telah memasuki puncak dampak La Nina.

Kepala BMKG Berau Tekad Sumardi menyebutkan hal itu sesuai prediksi dari BMKG sejak tiga bulan yang lalu bahwa puncak La Nina terjadi pada bulan Januari dan awal bulan Februari 2021.

Sehingga masyarakat diminta agar selalu waspada dengan curah hujan tinggi yang disertai gelombang tinggi terutama masyarakat yang beraktivitas di laut agar selalu memperhatikan kondisi cuaca.

Advertisement

“Untuk kondisi beberapa hari kedepan secara umum wilayah Berau masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” ucapnya, Kamis 21 Januari 2021.

Kabid Kedaruratan dan Logisitik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat menyebut, masyarakat Berau harus siap siaga, jika terjadi bencana. Pasalnya, cuaca buruk mulai terlihat di langit Kabupaten Berau.

“Beberapa hari lalu, kami dapat laporan nelayan di Tanjung Batu kapalnya terbalik, karena faktor cuaca,” ujarnya.

Menurutnya, potensi bahaya masih sangat besar terjadi di Berau. Apalagi, berdasarkan pantauannya air sungai beberapa hari belakangan ini meluap cukup tinggi. Bahkan, tumpah ke jalan.

“Hal seperti ini jangan dianggap enteng. Karena bisa berdampak sangat besar. jika itu terjadi di laut, besar kemungkinan akan terjadi tsunami,” katanya.

Baca Juga  Pembangunan Bendungan Sepaku Masuki Tahapan Pembebasan Lahan

Adapun potensi bencana yang menghantui Berau, adalah tanah longsor di wilayah Kelay, Teluk Bayur dan Segah. Sedangkan, untuk wilayah perkotaan juga masih memiliki potensi wilayah banjir, karena diapit dua sungai besar.

“Yang paling menjadi sorotan sekarang adalah daerah pesisir utara. Seperti Derawan, Maratua, bahkan hingga ke Tarakan. Itu bisa berpotensi tsunami,” ungkapnya.

Diungkapkannya, lempengan sesar di daerah Maratua berstatus aktif. Jika terjadi pergeseran lempeng, maka akan terjadi tsunami. Dalam situasi saat ini, dirinya berharap tim penanganan bencana bisa terbentuk. Hal itu untuk memudahkan koordinasi, regulasi termasuk publikasi dan informasi terkait potensi bahaya.

“Ini penting untuk dilaksanakan. Karena ada lima unsur yang dilibatkan untuk penanganan bencana. Mulai dari pemerintah kabupaten, TNI-Polri, perusahaan, Organisasi Masyarakat dan keterlibatan media,” ungkapnya.

Lanjutnya, saat ini banyak kampung yang sudah dilatih untuk tanggap bencana. Pihaknya pun kerap melakukan sosialisasi dan pendampingan ataupun simulasi jika terjadi bencana. Salah satu kampung yang telah siap untuk tanggap bencana adalah Tanjung Batu.

“Bukan hanya simulasi, tapi kami berikan edukasi. Jadi jangan sampai masyarakat kalau ada bencana seolah menyalahkan alam. Padahal, setiap bencana alam ada campur tangan manusia di dalamnya. Seperti tanah longsor, karena manusia membabat hutan. Banjir karena masyarakat membuang sampah di sungai,” pungkasnya.

Penulis: Sofi

Editor: Amin

Komentar