src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Penutupan Jembatan Sambaliung Berdampak pada Jam Keberangkatan Siswa dan Guru SMA

Penutupan Jembatan Sambaliung Berdampak pada Jam Keberangkatan Siswa dan Guru SMA

waktu baca 2 menit
Jumat, 9 Jun 2023 21:44 251 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Proses perbaikan jembatan Sambaliung membuat kalangan pelajar dan guru harus antre melewati penyeberangan alternatif yang disediakan. Tentu, hal ini akan berpengaruh jam kedatangan mereka untuk sampai ke sekolah.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim Wilayah VI Juanita Sari mengatakan  khusus siswa dan guru tingkat SMA, rata-rata tinggal di Tanjung Redeb sehingga harus menyeberang ke Sambaliung.

“Kita berbicara untuk tingkat SMA, untuk murid tidak seberapa. Di Sambaliung ada SMAN 4 Berau dan SMAN 12 Berau yang ada di Bangun,” jelasnya.

Disampaikannya, khusus untuk pelajar SMAN 4 Berau ada relawan anak-anak OSIS yang setiap saat mengontrol di dermaga pada saat jam penyeberangan pagi.

“Mereka akan stand by di sana terus, untuk mobil dinas kita juga sudah stand by satu untuk menjemput siswa/siswi yang di sana,” tuturnya.

Sementara di sisi dermaga Sanggam sudah ada orang tua yang menjemput anaknya untuk pulang sekolah.

Menurutnya, untuk pelajar tidak menjadi masalah karena penyeberangan lewat speed boat yang sudah dikhususkan untuk pelajar.

Untuk toleransi keterlambatan memang tidak disampaikan kepada murid. Namun, ketika siswa/siswi yang sudah berada di sekolah, guru-guru wajib menerima mereka di sekolah untuk belajar.

“Kalau ada guru yang menolak silahkan laporkan ke kita. Jadi guru dan kepala sekolah sudah kita beritahu,” bebernya.

Beberapa hari ke depan akan dilakukan pembagian rapor sehingga sekitar 2-3 minggu sekolah akan libur. Untuk itu, dirinya berharap mekanisme alur penyeberangan alternatif sudah rapi.

“Untuk sekarang memang masih semrawut. Jadi, harapannya ketika anak-anak turun sekolah hal tersebut sudah bagus alurnya,” ucapnya.

Tidak ada skema pembelajaran online karena siswa SMA tidak banyak. Siswa juga tidak mau. “Jadi kita tidak pikirkan murid-murid saja tapi kita pikirkan guru-gurunya juga. Karena guru-guru juga banyak yang tinggal di Tanjung Redeb. Dan sebelumnya juga pernah kita simulasikan. Bahkan ada guru yang stand by menunggu disitu,” pungkasnya. (Riska/#)

LAINNYA
x