22.6 C
Samarinda
Minggu, April 18, 2021

Pengsiong Coffee, Berkibar dari Memulai Bisnis Roasting

HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA — Pertumbuhan coffee shop di Kutai Timur cukup pesat jika dibandingkan kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Terus bertahan di tengah badai COVID-19 serta harus mengikuti berbagai aturan protokol kesehatan, jelas tidak mudah dilakukan oleh para pelaku ekonomi bisnis tongkrongan yang mengandalkan keramaian konsumen.

Berbincang mengenai penggiat bisnis kopi generasi ketiga di Kota Sangatta,  headlinekaltim.co bertandang ke Pengsiong Coffee di Jl. Karya Etam No 55.

Biji kopi hasil roasting Pengsiong Coffee. (Foto: istimewa)

Coffee shop ini berdiri sejak enam bulan lalu. Ownernya Aloft Santoso (28), lulusan Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS). Dia tidak segan terjun ke dunia perkopian walau sebelumnya bukan penikmat kopi.

Hal menarik dari bisnis kopi yang dijalankan oleh Aloft dan ayahnya, Budi Santoso, dibandingkan dengan pengelola coffee shop lainnya adalah cara memulai.

Mereka lebih dulu terjun selama 3 tahun terjun di bisnis bean, hal yang nyaris tidak pernah dilakukan para pemain di bisnis serupa. Kecenderungannya, para pemain kopi terjun di coffee shop terlebih dahulu, baru bermain di bisnis biji kopi.

“Lucu kalau ingat mengenai kenapa saya terjun ke bisnis ini. Suatu saat saya diajak oleh kawan-kawan mendatangi acara hari kopi yang menghadirkan berbagai jenis varian kopi Indonesia di Sangatta. Teman-teman antusias sekali. Saya yang saat itu belum tertarik hanya bisa berucap dalam hati, ‘kalau cuma kopi pahitan dan asaman begini banyak di rumah karena bapak rajin me-roasting’. Namun, karena sudah jalannya, ya terjun basah-basahan akhirnya di bisnis kopi,” ungkap Aloft sembari tertawa.

Aloft menerangkan, semula bapaknya hanya penikmat. Lama-kelamaan malah tercebur menjadi coffee roaster yang menekuni pembelajaran melalui mesin roasting berkapasitas 1 Kg.

Bahkan, pada Januari 2019 lalu, sang ayah mengantongi sertifikat nasional dari Wiliam Edison (WE) Coffee Lab di Alam Sutra Tanggerang. Dari hasil roasting dengan mesin berkapasitas 1 Kg, pendapatan kotornya per bulan mencapai angka Rp 18 – 20 juta.

“Untuk coffee shop Pengsiong sendiri pendapatan tertingginya mencapai angka Rp 16 juta, rata-rata diantara angka Rp 5-6 juta itupun di tengah-tengah pandemi COVID-19. Kita harus berani berusaha, terlebih sesama coffee shop di Sangatta saling terus membantu dan men-support perkembangan kopi di daerah ini. Kopi merupakan komoditas perkebunan yang penjualannya berada di posisi kedua di Indonesia, jadi tidak perlu ragu,” ujarnya.

Bisnis coffee shop sebermula menjamur pada tahun 2015 lalu di Kutim. Hingga tahun 2021 ini ada sekitar 21 coffee shop yang turut memutar roda ekonomi di Sangatta. Itu belum di kecamatan lain. Bisnis ini cukup padat karya. Ada ratusan pekerja baik itu owner, barista, hingga pelayan coffee shop.

Belum lagi tarikan lain yakni para musisi yang terlibat dalam bisnis hiburan di dunia perkopian tiap malamnya. Jadi, salah kalau menyebut pandemi sepenuhnya menutup peluang bisnis.

Penulis: RJ Warsa

Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar