23.6 C
Samarinda
Jumat, Agustus 6, 2021

Penanganan Pandemi dan Pentingnya Introspeksi

*Catatan Dr. Jauhar Effendi

MEREBAKNYA wabah pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019),  dari waktu ke waktu mendorong saya menulis artikel di media massa lokal. Berdasarkan data yang dikutip dalam catatan saya, per 5 April 2020, untuk seluruh wilayah Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif baru mencapai angka 2.273 orang. Sembuh 164 orang, dan meninggal dunia sebanyak 198 orang. Pada saat yang sama jumlah kasus terkonfirmasi positif di Kaltim baru sebanyak 25 orang. Sembuh 4 orang, dan meninggal 1 orang. Hanya saja waktu itu, Kaltim sudah bertengger pada urutan ke-8 dari 32 Provinsi di Indonesia. Dua provinsi yang belum terjangkit kala itu, yaitu Provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari data yang saya kutip per tanggal 13 April 2020, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 4.557 orang. Jumlah yang sembuh sebanyak 380 orang, dan yang meninggal sebanyak 399 orang. Angka terkonfirmasi dalam kurun waktu 8 hari peningkatannya sebanyak 2.284 orang, atau naik sebesar 100,48% jika dibandingkan angka terkonfirmasi pada tanggal 5 April 2020.

Menurut data, posisi Kaltim pada saat tanggal yang sama, yaitu tanggal 13 April 2020, jumlah yang terkonfirmasi positif sebanyak 35 orang. Dibandingkan jumlah terkonfirmasi pada tanggal 5 April 2020, mengalami kenaikan sebanyak 10 orang atau naik sebesar 40%.  Jumlah yang sembuh sebanyak 6 orang, dan yang meninggal masih tetap 1 orang.

Masih teringat perbincangan warga masyarakat pada waktu itu, jumlah kenaikan yang terkonfirmasi dalam kurun waktu 8 hari dari tanggal 5 April 2020 sebanyak 25 orang, kemudian naik menjadi 35 orang pada tanggal 13 April 2020 itu sudah menjadi perbicangan hangat dan membuat orang ketakutan.

Namun, kenapa sekarang, setelah 15 bulan kemudian, kenaikan kasus terkonfirmasi pada lingkup nasional maupun Kaltim, yang cukup tajam dan seakan-akan tidak terkendali? Kita tidak lagi merasa takut, kita semua tidak tergerak untuk introspeksi, kira-kira apa yang salah dengan kita?

Bayangkan, berdasarkan data yang saya kutip dari Tribunnews.com, sehari sebelum pemberlakuan PPKM Darurat di tiga daerah di Kaltim (Balikpapan, Berau dan Bontang), total kasus terkonfirmasi positip COVID-19 di seluruh Indonesia per tanggal 11 Juli 2021 sebanyak 2.527.203 orang. Total pasien yang sembuh sebanyak 2.084.724 orang, atau 82,49%. Total  pasien yang meninggal sebanyak 66.464 orang atau 2,63%.

Jumlah penambahan kasus baru sebanyak 36.197 orang. Sedangkan jumlah pasien yang sembuh per tanggal 11 Juli sebanyak 32.615 orang atau 90,10%, dan jumlah yang meninggal sebanyak 1.007 orang atau 2,78%.

Pada saat yang sama, data yang saya terima dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, total kasus terkonfirmasi positip COVID-19 di Kaltim sebanyak 85.948 orang. Total pasien yang sembuh sebanyak 74.609 orang atau 86,81%. Sedangkan total pasien yang meninggal per tanggal 11 Juli 2021 sebanyak 2.080 orang atau 2,42%.

Adapun jumlah penambahan kasus baru per tanggal 11 Juli 2021 sebanyak 1.134 orang. Jumlah pasien yang sembuh sebanyak 422 orang atau 37,21%, dan yang meninggal sebanyak 53 orang atau 4,67%.

Melihat dan membandingkan angka-angka di tingkat nasional dan di Kaltim, secara totalitas tingkat kesembuhan pasien di Kaltim dibandingkan rata-rata nasional sejak awal COVID-19 per tanggal 11 Juli 2021 masih lebih bagus di Kaltim.

Angka kesembuhan rata-rata nasional sebesar 82,49%. Sedangkan di Kaltim tingkat kesembuhannya sebesar 86,81%. Adapun total pasien yang meninggal di tingkat nasional sebesar 2.63%. Sedangkan di Kaltim lebih rendah dari rata-rata nasional, yaitu sebesar 2,42%.

Namun jika dibandingkan kasus harian diperoleh data sebagai berikut; di tingkat nasional tingkat kesembuhan dibandingkan dengan jumlah yang terkonfirmasi pada tanggal 11 Juli mencapai angka 90,10%. Di Kaltim angka kesembuhan hanya 37,21%. Sedangkan tingkat kematian pasien sebesar 2,78%. Kaltim angka kematiannya sebesar 4,67%.

                                              ***

Kalau kita menengok ke belakang, Indonesia mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020 yang lalu. Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan ada 2 orang Indonesia, positif terjangkit COVID-19, yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Berdasarkan penelusuran, kasus itu berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun dengan Warga Negara Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta, pada tanggal 14 Februari 2020.

Namun, menurut staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, diprediksi virus itu sudah beredar di Indonesia sejak minggu ke-3 bulan Januari 2020. Hal itu berdasarkan laporan kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di salah satu daerah sejak minggu ke-3 bulan Januari 2020. Laporan ODP ini dinilai sebagai bukti telah terjadi penularan virus corona secara lokal.

Terlepas mana yang lebih valid data tersebut, yang jelas laju perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia perkembangannya sangat pesat. Di Kaltim, sempat mengalami penurunan, kemudian naik secara drastis pada beberapa hari terakhir ini. Bahkan, sehari sebelum penerapan PPKM Darurat, kasus harian terkonfirmasi positif mencapai angka tertinggi sejak wabah pandemi COVID-19 masuk ke Kaltim pada bulan Maret 2020, yaitu mencapai angka 1.134 orang.

Berbagai upaya untuk mencegah dan menangani wabah pandemi COVID-19 telah dilakukan, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Termasuk juga Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan Pemerintah Kelurahan. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan. Imbauan dan langkah-langkah persuasif juga telah dilakukan. Begitu juga langkah-langkah pemberian sanksi, baik sanksi sosial, seperti kerja bhakti membersihkan tempat pemakaman umum, menghafal Pancasila dan lain-lain, bagi orang yang melanggar tidak memakai masker. Begitu juga kepada orang yang menimbulkan kerumunan, pemberian sanksi pidana melalui sidang pengadilan juga telah dilakukan.

Kebijakan penyekatan untuk mengurangi mobilitas orang pun dilakukan. Vaksinasi juga sudah dilakukan, walaupun belum semuanya. Ada yang sudah menerima vaksin dua kali (tuntas), tetapi ada juga yang baru satu kali. Tetapi laju pertumbuhan kasus terkonfirmasi COVID-19 justru semakin meningkat. Bahkan dalam beberapa kasus, yang sudah menerima vaksin dua kali juga banyak terkonfirmasi positif COVID-19.

Dalam jangka panjang tentu saja wabah pandemi COVID-19 dapat mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sudah banyak para pekerja yang di PHK, sehingga menambah jumlah pengangguran. Daya beli masyarakat menurun, karena aktifitas ekonomi juga mengalami penurunan.

Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah mengalami penurunan. Pemasukan dari sektor pajak dan retribusi tidak mencapai target. Kinerja ekspor juga mengalami pelambatan. Anggaran Pemerintah pada semua tingkatan dilakukan refokusing. Biaya untuk kegiatan pembangunan banyak dikurangi, karena dananya dipakai untuk penanganan COVID-19. Ratusan dokter spesialis dan dokter umum banyak yang berguguran. Ribuan paramedis juga banyak yang tumbang menghadap Sang Pencipta. Demikian juga warga masyarakat, baik yang berusia muda, apalagi yang berusia lanjut menemui ajalnya.

Di beberapa daerah, Rumah Sakit sudah tidak mampu menampung pasien COVID-19. Kota Balikpapan, Kota Bontang dan Kabupaten Berau, per tanggal 12 Juli sampai dengan tanggal 20 Juli 2021 diterapkan PPKM Darurat. Di beberapa daerah di luar Kaltim, bahkan terjadi kelangkaan tabung oksigen. Varian virus COVID-19, semakin ganas dan menggila. Varian delta cepat menyerang. Tetapi juga cepat sembuh, manakala kekebalan tubuh kita cukup kuat.

Akankah situasi ini terus berlangsung? Upaya fisik atau ikhtiar sudah dilakukan, tetapi hasilnya, COVID-19 masih belum terkendali. Bahkan, semakin menjadi-jadi seakan tidak terkendali. Mari kita membersihkan diri. Mari kita merenungkan diri. Mari kita bercermin diri dan menghitung diri.

Mari kita instrospeksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Saatnya tingkatkan amal dan kebajikan kita. Mari kita bersimpun diri, memohon ampunan dan memohon lindungan-Nya agar wabah pandemi COVID-19 segera enyah dari Bumi Etam Kalimantan Timur, dan seluruh ummat manusia diberikan kekuatan dan kesehatan. Aamiin.

 *) Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Provinsi Kaltim.

 

 

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar