23.8 C
Samarinda
Tuesday, July 23, 2024

Nyai Pondok yang ‘Nyemplung’ di Dunia Riset, Kini Konseptor SNI Bidang Pangan Kemenperin RI

HEADLINEKALTIM.CO, BOGORE fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahnya”. Kalimat ini paling pas untuk mengenalkan Fitri Hasanah STP, MSI, anak dari pasangan Almarhum H. Yakin Sabri HS. BA dan Hj. Husnaini S.Pd. Ayah dan ibunya adalah pendiri Yayasan Pendidikan Islam dan Dakwah (YPID) Nurul Huda Provinsi Bengkulu.

Meskipun mewarisi sebuah pondok pesantren besar, wanita berparas manis dengan mata agak sipit ini bersikeras untuk menempuh jalurnya sendiri. Saat kuliah, Fitri memilih Fakultas Pertanian pada Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia menjadi lulusan terbaik fakultas pada tahun 2005 dengan nilai IPK 3,78.

Sejak mahasiswi, dia tak memilah-milih kawan. Tak nampak kesan seorang Ning, sebutan untuk anak kyai besar sebuah pondok pesantren. Kesehariannya itu terus belanjut hingga menempuh S2 di Jurusan Ilmu Pangan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini, ia menjadi peneliti di Balai Besar Industri Agro di Kementerian Perindustrian di Bogor sejak 2009 lalu.

“Jangan lihat yang sekarang. Dulu saya harus belajar keras terkait penelitian di bidang pangan. Pokoknya,  apapun itu ditempuh untuk menambah pengetahuan pada spesifikasi keilmuan. Dilakoni dengan penuh semangat. Itu yang saya ambil sebagai sebuah pedoman hidup yang diajarkan Abah dan Emak sejak kecil.  Apalagi, dua tahun sebelum wafatnya Abah, kami anak-anaknya diajak untuk mewakafkan semua aset yayasan hingga tanah yang semula milik pribadi jadi milik umat, tanda komitmen beliau soal kebermanfaatan,” terangnya pada headlinekaltim.co.

Bekerja sebagai peneliti, mengharuskan Fitri untuk fokus mengabdi pada hasil-hasil penelitian terkait produk-produk pangan di Indonesia. Terlebih, dirinya merupakan salah satu orang yang mendapatkan penugasan sebagai konseptor dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) di bidang pangan. Ia juga bertindak pula sebagai Inspektur FO yakni kecukupan panas pada produk olahan pangan, serta narasumber pada berbagai pelatihan di bidang pangan untuk UKM hingga industri besar.

“Sebelumnya saya juga mengikuti berbagai pelatihan dalam rangka peningkatan diri dan kemampuan di bidang pangan. Seperti mengikuti Lead Auditor Course ISO 9001:2008, Lead Auditor Course Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000:2005, hingga juga mengikuti Fruit Processing Technology China dan Training For Prominece UFPLC Japan untuk mengurangi dahaga ilmu pengetahuan,” ucapnya.

PENGENDALIAN MUTU

Diterangkan Fitri, secara umum, logo SNI  dapat meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan sehingga dapat mendorong persaingan di pasar global. Khusus untuk gula, misalnya, implementasi SNI hukumnya wajib. Hal tersebut didorong karena gula adalah komoditi pokok dan konsumsi rutin dalam kebutuhan pangan.

Adanya revisi dari SNI sebelumnya menjadi SNI wajib gula kristal putih tahun 2020, diharapkan dapat memberikan stimulus bagi industri gula tanah air. Ada beberapa parameter mutu dalam ketentuan SNI yang baru diupayakan mengakomodir parameter mutu.  Perihal yang seringkali jadi kendala dalam pemenuhan standar produk. Dengan demikian akan meningkatkan produksi gula kristal putih dalam negeri sehingga menekan impor gula.

“Tentu saja jika produksi gula dalam negeri meningkat, maka kebutuhan terhadap bahan baku yaitu tebu juga akan meningkat dan akan berimbas pada peningkatan permintaan tebu pada petani tebu. Sehingga harga bahan baku tebu jg dapat lebih diperhitungkan dan menguntungkan petani,” jelasnya.

Perlu diketahui penggunaan logo sertifikat SNI pada setiap produk punya batas waktu. Demikian pula dengan SNI gula. Terdapat dua tipe SNI untuk tiap produk pangan. Pertama, SNI yang sifatnya wajib. Batas waktu berlakunya hak penggunaan sertifikat SPPT SNI ditentukan oleh lembaga yang mensertifikasinya (LsPro). Kedua, SNI tidak wajib. Skemanya diatur oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN).

“Untuk di lembaga sertifikasi kami sendiri (LSPRO BBIA, Kementerian Perindustrian, Red.)  telah melakukan sertifikasi SNI hingga tahun 2020 lalu. Total sertifikat yang dikeluarkan sebanyak 70 sertifikat dan itu dituangkan pula dalam buku Pengendalian Mutu Gula Kristal Putih, dalam rangka implementasi SNI Wajib,” ujarnya.

Fitri bercerita mengenai latar belakang penyusunan buku tersebut. Itu berkaitan erat dengan upaya mendorong percepatan implementasi SNI wajib Gula Kristal Rafinasi (GKP): 3140.3 tahun 2020.  Sebelumnya, SNI yang digunakan masih versi 2010. Versi terbaru sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan, perkembangan teknologi dan regulasi saat ini. Tim penulisnya, selain Fitri ada Drs Eddy Sapto Hartanto, Nobel Christian Sirega, ST, MEng. Mereka adalah auditor yang mengamati kondisi industri gula dan mengaudit langsung ke lapangan.

“Buku ini dikerjakan dengan waktu antara 5 hingga 6 bulan, dimana merupakan program dari Kementerian Perindustrian. Tentu ada saja suka dukanya yakni soal membagi waktu kerja kami bertiga dalam menyusun buku sebagai sebuah kerja tim. Mengingat pada kesehariannya masing-masing memiliki tugas, apalagi bersamaan masa pandemi COVID-19. Pengumpulan data dan informasi yang sebenarnya akan lebih optimal dilakukan langsung di lapangan, sebagian besar tidak dapat dilakukan langsung,” jelasnya.

Di luar buku tersebut, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Islam dan Dakwah (YPID) Nurul Huda Provinsi Bengkulu ini juga menerbitkan buku tentang Produk Olahan Kacang Koro. Ada satu buku lagi  diterbitkan oleh DJIKM Kemenperin tentang Cara Produksi Pangan Olahan yg Baik (CPPOB) Produk Gorengan.

Penulis: RJ. Warsa

Editor: MH Amal

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER