src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis Jelang Nataru 2025, Ini 5 Faktor Penahannya

Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis Jelang Nataru 2025, Ini 5 Faktor Penahannya

3 minutes reading
Wednesday, 24 Dec 2025 13:30 113 Anjhu Anggia

HEADLINEKALTIM.CO – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan positif meski masih cenderung terbatas. Mata uang Garuda tercatat menguat dibandingkan posisi sebelumnya, mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen domestik dan global yang saling tarik-menarik menjelang libur panjang akhir tahun.

Dilansir dari AntaraNews nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta menguat 16 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp16.771 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp16.787 per dolar AS. Penguatan ini menandai adanya optimisme pelaku pasar, meskipun tekanan musiman masih membayangi pergerakan kurs rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai ruang penguatan nilai tukar rupiah relatif terbatas menjelang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Menurutnya, fase akhir tahun kerap diwarnai oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri, yang berpotensi menahan laju apresiasi rupiah.

Secara historis, nilai tukar rupiah memang sering menghadapi tekanan tambahan menjelang libur panjang. Permintaan valuta asing biasanya meningkat untuk memenuhi kebutuhan pembayaran impor, penyesuaian kas perusahaan di akhir tahun, hingga pengelolaan kewajiban dalam mata uang asing. Pola ini kerap membuat kurs rupiah sulit menguat signifikan meski sentimen jangka pendek terlihat positif.

Meski demikian, dari sisi domestik terdapat faktor penopang yang membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah peluang masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi pemerintah. Kenaikan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) serta penurunan imbal hasil obligasi rupiah dinilai mampu menambah pasokan valuta asing di pasar domestik.

Kondisi tersebut turut menahan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah, terutama di tengah kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya kebutuhan dolar AS di penghujung tahun. Dengan pasokan devisa yang relatif terjaga, pergerakan kurs rupiah masih memiliki bantalan meskipun ruang penguatannya terbatas.

Dari sisi eksternal, sentimen global juga memberikan kontribusi terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Dolar AS cenderung melemah seiring menguatnya sejumlah mata uang utama dunia dan kondisi pasar global yang relatif sepi menjelang libur Natal. Situasi ini membuat tekanan terhadap rupiah sedikit mereda dalam jangka pendek.

Namun demikian, pelemahan dolar AS tidak berlangsung sepenuhnya mulus. Data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang solid menjadi salah satu faktor penahan. Laju pertumbuhan ekonomi AS yang tercatat sebesar 4,3 persen secara tahunan mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih hati-hati dalam membentuk ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap berpeluang mendapatkan dukungan sewaktu-waktu. Jika ekspektasi penurunan suku bunga dinilai terlalu agresif, pasar berpotensi melakukan koreksi yang pada akhirnya kembali memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, perhatian pelaku pasar global juga tertuju pada rilis data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS. Data ini kerap menjadi indikator penting untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter ke depan. Dalam situasi volume perdagangan yang tipis menjelang libur, data semacam ini bisa memicu pergerakan tajam di pasar valuta asing.

Tak hanya itu, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,16 persen juga menjadi sorotan. Kenaikan imbal hasil tersebut berpotensi menarik arus modal kembali ke aset dolar AS, sehingga dapat memicu penguatan dolar dan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see terhadap arah pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan. Stabilitas rupiah masih sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing, serta dinamika sentimen global yang berkembang menjelang akhir tahun.

Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas hingga periode libur Nataru berakhir. Selama tidak ada guncangan besar dari luar negeri, kurs rupiah dinilai masih mampu bertahan dengan fluktuasi yang terkendali, meski peluang penguatan signifikan terbilang sempit.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x