src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Pahrizal. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda tahun ajaran 2026/2027 tidak dijalankan secara singkat. Kegiatan yang dimulai pada Jumat 31 Juli 2026 ini berlangsung hingga 16 Agustus 2026, dirancang selama dua pekan karena memuat rangkaian proses yang lebih luas dari sekadar pengenalan sekolah.
MPLS menjadi fase awal pembentukan kebiasaan hidup siswa, terutama karena sekolah ini menerapkan sistem terpadu lintas jenjang sekaligus berbasis asrama. Siswa tidak hanya diperkenalkan pada ruang kelas, tetapi juga pada ritme kehidupan sehari-hari yang akan mereka jalani.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Pahrizal, menjelaskan, panjangnya durasi MPLS bukan tanpa alasan. Program disusun berbeda untuk setiap jenjang, menyesuaikan kebutuhan perkembangan siswa, namun tetap disatukan dalam pengalaman hidup bersama.
“Tidak bisa kita samakan antara SD, SMP, dan SMA. Mereka punya kebutuhan masing-masing. Tapi untuk kegiatan di asrama, kita buat sama, karena di situlah mereka belajar hidup bersama,” ujar Pahrizal, Jum’at 31 Juli 2026.
Dijelaskannya, pendekatan ini membuat MPLS tidak hanya berisi pengenalan lingkungan, tetapi juga pembinaan karakter dan interaksi sosial. Ia menginginkan konsep seperti “perkampungan”, di mana siswa belajar mengenal bukan hanya sekolah, tetapi juga orang-orang di dalamnya.
“Jadi masa pengenalan sekolah itu bukan hanya kita kenal sekolah, tapi kita juga harus kenal dengan kawan-kawan kita. Kita harus kenal-kenal dengan tetangga-tetangga kita. Kita ingin mereka, bagaimana sih siswa SMA bisa memperlakukan adik-adiknya di SMP dan SD layaknya saudara,” tuturnya.
Untuk mendukung proses tersebut, berbagai pihak dilibatkan dalam rangkaian kegiatan, mulai dari tenaga kesehatan, psikolog, hingga unsur kebencanaan. Keterlibatan ini menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh, agar siswa tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga secara fisik dan mental.
Salah satu tahapan awal yang dijalankan adalah pemeriksaan kesehatan atau cek kesehatan gratis bagi siswa baru. Kegiatan ini dilakukan di awal masa MPLS untuk memastikan kondisi fisik siswa sebelum mengikuti aktivitas yang cukup padat, termasuk kehidupan di asrama.
Selain kesehatan fisik, sekolah juga melakukan pendekatan berbasis asesmen kondisi psikologis siswa. Kedatangan siswa diatur tidak secara serentak, melainkan bertahap, menyesuaikan kebutuhan adaptasi masing-masing.
Siswa yang berasal dari luar daerah seperti Berau, Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Timur diprioritaskan datang lebih awal. Sementara siswa yang berdomisili lebih dekat dijadwalkan menyusul dalam beberapa hari berikutnya, menyesuaikan kapasitas dan kesiapan lingkungan.
“Kita tidak ingin anak-anak langsung datang dalam jumlah besar. Kita lihat juga kondisi psikologinya. Kalau langsung penuh, mereka bisa merasa tidak nyaman. Jadi kita beri waktu supaya mereka terbiasa dulu,” kata Pahrizal.
Ia menambahkan, dengan jumlah siswa yang masih terbatas di awal, mereka memiliki kesempatan untuk mengenali lingkungan secara perlahan. Pendekatan ini dinilai penting untuk mengurangi rasa canggung dan membantu siswa beradaptasi dengan ritme baru.
Dalam kehidupan berasrama, pengaturan juga dilakukan secara bertahap. Asrama telah dipisahkan antara putra dan putri, namun penempatan siswa masih menyesuaikan kondisi karena beberapa bagian masih dalam tahap penyempurnaan akhir. “Tidak mungkin kita langsung masukkan semua siswa sementara masih proses pembersihan. Kita tunggu siap, baru kita tempatkan secara bertahap,” ujarnya.
Ke depan, siswa akan dikelompokkan sesuai jenjang dalam masing-masing asrama guna memudahkan pembinaan dan pengawasan selama masa awal adaptasi. Selain itu, materi pembinaan karakter menjadi bagian penting dalam MPLS. Topik seperti pencegahan perundungan tidak hanya diberikan sekali, tetapi berulang dalam berbagai sesi. Sekolah ingin memastikan pola interaksi yang sehat terbentuk sejak awal, mengingat intensitas pertemuan siswa dalam sistem berasrama cukup tinggi.
Di tengah proses tersebut, kesiapan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan juga menjadi perhatian. Pahrizal memastikan seluruh guru, wali asuh, dan tenaga pendukung telah siap mendampingi siswa, meski ke depan masih ada kemungkinan penambahan tenaga melalui proses seleksi yang sedang berjalan.
Dengan seluruh rangkaian tersebut, MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda menjadi fase penting yang menentukan bagaimana siswa akan menjalani kehidupan sekolah ke depan, bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang hidup bersama dalam satu lingkungan.
“Jadi sebenarnya kita bukan hanya terkait dengan bangunan ya, tapi kita mempertimbangkan psikologi anak,” demikian Pahrizal. (Retno)