30.9 C
Samarinda
Thursday, May 13, 2021

Menumbuhkan Percaya Diri

Oleh: Yanuardi Syukur

SUATU ketika ada seekor singa dan manusia melakukan perjalanan di hutan. Mereka satu rombongan. Di tengah jalan, mereka bertengkar dan masing-masing membual bahwa kaumnya lebih unggul dalam kekuatan dan pikiran.

Tiba di sebuah tempat terbuka di hutan, mereka melihat sebuah patung. Patung itu menunjukkan Hercules, lelaki yang dipercaya orang Yunani sebagai _divine protector of mankind_, “pelindung suci umat manusia”, putra Zeus dan Alcmene, yang berhasil merobek rahang singa Nemea.

“Lihat,” kata pria itu kepada singa dan rombongan, “betapa kuatnya kita! Raja hutan itu seperti lilin di tangan kita!”

“Ho!” Sang singa tertawa, “Manusia yang buat patung itu. Pasti, itu akan jadi pemandangan yang berbeda jika singa yang membuatnya.”

Cerita pahlawan Yunani ini masyhur dalam bahasan percaya diri. Dalam mitologi Yunani, fight Hercules kepada singa Nemea adalah tugas pertama. Sebuah misi yang _impossible_ awalnya.

Ketika gagal melumpuhkan singa berkulit kebal senjata itu, Hercules memilih melawan tanpa senjata. Dia berhasil, jadi _possible_, dan akhirnya dia pakai kulit singa itu sebagai jubah pelindungnya.

Dari cerita itu terlihat bahwa pemimpin itu lahir dari “capaian-capaian kecil” yang terakumulasi menjadi “capaian-capaian besar.”

Kita yang mengikuti kekuatan Hercules itu akan mengatakan: “Percaya diri bisa mengalahkan ketidakmungkinan.” Tapi, dari sudut lain, singa juga punya pandangan berbeda. Jika patung itu dibuat oleh singa, maka singalah yang pasti menang.

Jika dibawa pada kehidupan, kita jadi mengerti bahwa kepercayaan diri itu sangat penting, dan dalam banyak hal menentukan keberhasilan kita dalam melewati tantangan. Siapa percaya diri, dia berhasil. _At least_, berhasil pada langkah pertama.

Siapa yang bercerita, dia yang menang. _History is always written by the winners_. Leigh Teabing, sejarawan Oxford dengan spesialisasi _holy grail_, dalam karakter novel detektif-misteri karya Dan Brown, _The Da Vinci Code_ (2003), mengucapkan kalimat menarik:

Baca Juga  Jihad Intelektual Alumni Gontor

“Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Ketika dua budaya bentrok, yang kalah dilenyapkan, dan pemenangnya menulis buku-buku sejarah, buku-buku yang mengagungkan tujuan mereka sendiri dan meremehkan musuh yang ditaklukkan. Seperti yang pernah dikatakan Napoleon: _Apa itu sejarah, kecuali dongeng yang disepakati?_“

Baca Juga  Duo V, Vaksinasi dan V Shape

Semua kita–yang telah berhasil lahir sampai detik ini–adalah para pemenang. Maka, penting untuk selalu mengejar kemenangan dengan percaya pada potensi diri, dan berjuang mewujudkan impian-impian dalam hidup.

Terkadang, kegagalan itu muncul. Tapi, itu sangat normal. Semua orang pernah gagal. Yang penting bukanlah peristiwa kegagalan, tapi bagaimana kita bangkit dari kegagalan tersebut.

Dalam perang, orang Tiongkok yakin: “hanya ada 36 strategi di bawah langit.” Strategi nomor 36 terjemahannya begini: “Jika seluruhnya gagal, mundur!” Mundur untuk kembali. Lari, konsolidasi, dan persiapkan untuk bertempur di lain waktu.

Prinsip perang Tiongkok: Kalau pihak Anda kalah, hanya ada 3 pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan diri. Menyerah adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah, tapi melarikan diri bukanlah sebuah kekalahan.

Motivasi mereka: “Selama Anda tidak kalah, Anda masih memiliki sebuah kesempatan untuk menang!”

“Ingatlah bahwa tujuan Anda adalah memenangkan perang, bukan setiap pertempuran,” demikian strategi ke-36. Semacam strategi hidup yang berbasis pada kepercayaan pada diri sendiri.

Semangat sang singa di atas adalah motivasi dia untuk tetap percaya diri. Pun demikian strategi perang dari Tiongkok–3 hal itu–juga penting dalam menghadapi hidup yang tidak selalu menang.

*)Penulis adalah Presiden Rumah Produktif Indonesia.

 

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar