Beranda BUMI ETAM Menolak Galau di Tengah Pandemi, Musisi Konser Daring hingga Gelar Coaching Clinic

Menolak Galau di Tengah Pandemi, Musisi Konser Daring hingga Gelar Coaching Clinic

Muhammad Tri Suhendra Hermain. (sumber: istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Tidak perlu mencaci-maki kondisi dunia yang sedang dilanda pandemi COVID-19 meskipun segala aktivitas terbatas. Sebab, berkarya bukan bergaya. Itulah yang diyakini Muhammad Tri Suhendra Hermain, musisi asal Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kaltim.

Pria yang karib dengan panggilaan Eenkid ini mengenal musik sejak kecil dari orang tuanya. Lulusan Universitas Teknologi Yogyakarta, Jurusan Sastra Inggris ini berposisi sebagai bassis di grup music yang dibentuknya.

Namun, tak jarang dia bertindak sebagai main vocal pada tiga grup musik yang digawanginya; Ruffus, Pelandok Besayap, hingga Seri Galau.

Advertisement

Dia mengakui, selama pandemi membuat semua orang dipaksa dengan kebiasaan baru. Sebagai musisi yang terbiasa berkomunikasi dengan penonton dari atas panggung, tentu ada yang terasa janggal.

“Susah sih soalnya kebiasaan baru, biasanya datang langsung ke konser dan menyanyi bareng dengan rekan-rekan di band termasuk pula audience. Namun saat ini harus bermain dari rumah masing-masing secara daring sehingga feel-nya jauh berkurang,” ungkapnya sembari menggaruk-garuk kepala.

Di tengah perkembangan musik yang begitu pesat, genre musik juga semakin banyak. Penikmat dan pelaku musik tidak saja bermunculan di kota-kota besar di Indonesia,  juga di kota-kota kecil termasuk pula di Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Menurut Eenkid, dampak pandemi ikut menghantam pelaku kesenian. Jika musisi tidak memiliki kedalaman dalam berkarya maka mereka akan segera habis.

Baca Juga  Asyik, Pulau Derawan Dibuka Kembali untuk Wisatawan

“Saat ini adalah zaman instan, di mana sisi negatif membuat musisi baru tanda sadar melupakan akar bermusik yang mereka pelajari. Kebanyakan ada yang ingin secara instan tenar dan bermusik instan, sehingga tidak memiliki pondasi kuat. Ketika tampil kemudian hanya ditonton beberapa orang lantas kecewa, lalu putar arah alias berhenti mengembangkan kemampuan bermusik. Itu di waktu normal, bagaimana dalam keadaan pandemi COVID-19?” jelasnya, sembari tertawa.

Itu sebabnya, Eenkid dan kelompok musiknya menolak menyerah. Tak mau galau karena pandemi. Caranya, mereka melakukan promo yang digencarkan melalui media sosial dan menggelar live music secara daring.  Tentu saja, protokol kesehatan tetap dipatuhi, musisi masih berkarya, penikmat musik pun terpuaskan.

Di samping itu, mereka bisa menambahkan konten kreatif lainnya. “Kita tidak hanya mengandalkan live music, namun juga menambahkan beberapa konten di media sosial. Mulai dari berbagi pengalaman, coaching clinic, hingga talkshow. Itulah cara menarik minat para penggemar musik di Indonesia, Kaltim, maupun juga Kutai Kartanegara,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Eenkid menegaskan, menyalurkan hasrat bermusiknya tidak sekadar hobi. Namun, penting untuk terus meningkatkan kemampuan dengan terus belajar.

“Soal tua atau muda itu adalah soal hitungan umur. Namun soal kemampuan tentu semua dapat saling mengulik satu dengan yang lainnya, tingga bagaimana menyerahkan ketulusan berkarya untuk Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga  Sultan Kutai Tegaskan Netral di Pilkada, Imbau Semua Pihak Kedepankan Persatuan

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement