src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Filosofi ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus janur ini hampir selalu hadir di meja makan bersama opor ayam dan rendang saat momen kebersamaan keluarga.
Dilansir dari RRI, ketupat Lebaran tidak sekadar makanan pelengkap, melainkan memiliki akar sejarah dan makna budaya yang kuat di tengah masyarakat. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi simbol penting dalam perayaan Idul Fitri.
Ketupat sendiri merupakan olahan beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda atau janur, lalu dimasak hingga matang. Bentuknya beragam, mulai dari persegi hingga lonjong, yang menambah kekhasan dalam penyajiannya saat Lebaran.
Dalam catatan sejarah, keberadaan ketupat Lebaran erat kaitannya dengan dakwah Sunan Kalijaga di tanah Jawa. Ia memperkenalkan dua istilah penting, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Kupat, sebagai penanda rangkaian perayaan setelah Idul Fitri.
Bakda Lebaran dimulai pada 1 Syawal, ditandai dengan pelaksanaan salat Id serta tradisi silaturahmi. Pada momen ini, masyarakat saling berkunjung dan bermaaf-maafan sebagai wujud mempererat hubungan sosial usai menjalani ibadah puasa.
Sementara itu, Bakda Kupat dirayakan sekitar sepekan setelah Idul Fitri. Pada tradisi ini, masyarakat membuat ketupat Lebaran untuk kemudian disantap bersama atau dibagikan kepada kerabat dan tetangga.
Kebiasaan berbagi ketupat Lebaran juga mencerminkan penghormatan kepada orang yang lebih tua sekaligus memperkuat hubungan sosial. Tradisi tersebut sarat dengan pesan kebersamaan dan saling memaafkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memiliki nilai historis, makna ketupat juga berkaitan dengan filosofi Jawa yang dikenal sebagai laku papat. Konsep ini mencakup Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan yang melambangkan penyempurnaan ibadah, sikap berbagi, saling memaafkan, serta kembali suci setelah Ramadan.