src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Mantan Teknisi Listrik Geluti Bisnis Jualan Sempol Ayam

Mantan Teknisi Listrik Geluti Bisnis Jualan Sempol Ayam

3 minutes reading
Friday, 3 Apr 2026 22:10 66 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Pernah bekerja sebagai teknisi listrik di Kecamatan Sangasanga, Didi Setiadi kini alih profesi. Dia memutuskan berwirausaha di Kota Tenggarong. Pria kelahiran Tenggarong tahun 1986 ini sekarang berjualan sempol ayam dengan berbagai varian rasa. ‎‎”Sudah dua bulan ini geluti jualan sempol ayam,” ucap Didi, Jumat 3 April 2026, usai salat Jumat di masjid Agung Tenggarong.

‎Berjualan sempol ayam, beber Didi, merupakan usahanya yang ketiga kalinya usai “banting stir” dari teknisi listrik. Memulai usaha sejak 2024, dirinya mencoba peruntungan usaha roti. Usaha kedua dia berjualan donat. Ada pertimbangan tersendiri dirinya memilih berjualan sempol.

‎”Saat puasa Ramadhan, orang jarang mencari menu bukaan donat, malah yang dicari yang berbau gorengan gurih asin, laku keras. Jadi, sudah hampir dua bulan ini jualan sempol,” kenangnya.

‎Dari mana resep sempol ayam diperoleh? Didi menyebut semua resep adalah urusan istrinya. Dia  hanya bertugas menjual. Saat memulai, selama tiga hari tak ada pembeli. Barulah pada hari keempat, pembeli mulai banyak berdatangan hingga sekarang banyak pelanggan.

‎Didi kerap berjualan di seputaran jalan KH Dewantara Panji, sekitar SDN 02 Tenggarong, atau di depan eks perpustakaan daerah. Pagi hari dari jam 09.00-13.00 Wita, lalu pulang ke rumah di Maluhu. ‎”Sorenya, dari pukul 17.00 sampai malam. Bahkan sampai jam 2 pagi terkadang masih ada yang beli sempol,” sebutnya.

‎Jenama sempol jualannya Atho-Ais, yang diambil dari nama kedua anaknya. Varian rasa sempol, ada orisinil, telur, sosis, dan keju mozarela. Gerobak jualan Didi juga terlihat bersih dipandang mata pembeli. ‎”Saya rutin cuci gerobak agar bersih, ” tipsnya.

‎Didi memang lahir di Tenggarong. Tumbuh besar di Samarinda. Ayahnya suku Jawa dan ibu  Banjarmasin.  Di Samarinda, dia pernah ikut bekerja di pabrik kayu membantu sang ayah. Saat era keemasan pabrik kayu berakhir, ayahnya kembali ke Tangerang. Didi sendiri menetap bersama istri dan mertua di Tenggarong sejak 2021.

“Jika berjualan di areal tempat ibadah seperti masjid, akan mendapatkan berkah dari tempat ibadah tersebut, tapi jangan lupa salat di masjid,” katanya soal pilihan lokasi jualannya yang berada di dekat Masjid Agung Tenggarong.

Untuk harga satu tusuk sempol jualan Didi, rasa orisinil dibandrol Rp 1.000. Selain itu, semuanya Rp 2.000,- per tusuk. Untuk urusan produksi, bahan baku gilingan adonan sempol bisa mencapai 3-5 Kg ayam dan menghasilkan 1.000 tusuk sempol. ‎”Biasanya tiga hari sekali, giling adonan lagi,” ucap Didi.

‎Seorang pembeli bernama Ihsan mengakui rasa sempol ayam Atho-Ais cukup enak. Bumbunya terasa, gurih dan nikmat. ‎”Ini sempol rasanya agak beda dari sempol lainnya yang pernah saya coba,” ujarnya.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x