src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kisah Haru Mbah Mardijiyono, Jamaah Haji Tertua Indonesia Usia 103 Tahun Tiba di Tanah Suci

Kisah Haru Mbah Mardijiyono, Jamaah Haji Tertua Indonesia Usia 103 Tahun Tiba di Tanah Suci

3 minutes reading
Thursday, 7 May 2026 14:01 1 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Seorang jamaah asal Bantul berusia 103 tahun akhirnya tiba di Madinah untuk menunaikan rukun Islam kelima. Dilansir dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Mardijiyono Karto Sentono dinobatkan sebagai jamaah haji tertua asal Indonesia pada musim haji tahun 2026. Pria berusia 103 tahun itu tiba di Tanah Suci pada Ahad (3/5/2026) setelah melalui penantian panjang untuk bisa berangkat haji.

Warga Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA). Kedatangannya di Madinah langsung menarik perhatian para petugas maupun jamaah lainnya.

Karena faktor usia, Mbah Mardijiyono mendapatkan pendampingan khusus dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Bahkan, petugas membantu menggendongnya saat turun dari kendaraan menuju area penerimaan jamaah.

Meski kondisi fisiknya sudah renta, semangat Mbah Mardijiyono untuk beribadah tetap tinggi. Dalam kesehariannya, ia diketahui bekerja sebagai petani dan memiliki keinginan sederhana untuk bisa melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Rasa syukur juga diungkapkan Mbah Mardijiyono setelah akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman, mengaku terharu melihat keteguhan niat jamaah lanjut usia tersebut. Ia menilai semangat Mbah Mardijiyono menjadi contoh nyata ketulusan seorang hamba dalam beribadah.

“Kita petugas ini merasa sebagai suatu kehormatan, kemuliaan bagi petugas haji, baik yang di kloter ataupun kita yang berada di Arab Saudi. Jadi ketika kita mendapatkan jamaah yang paling sepuh di gelombang pertama, kita ini mendapatkan kemuliaan untuk merawat beliau,” ujar Khalilurrahman usai menengok kedatangan Mbah Mardijiyono di Makareem Suite Hotel.

Ia juga meminta seluruh petugas haji memberikan perhatian maksimal terhadap kondisi kesehatan dan keselamatan Mbah Mardijiyono selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

Menurut Khalilurrahman, doa para jamaah lansia diyakini menjadi kekuatan tersendiri bagi petugas yang menjalankan tugas pelayanan di Tanah Suci.

“Ini ibaratnya ini orang yang doanya Mustajabah. Makanya saya tadi minta doa kepada beliau. Semoga kita semua petugas di sini diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran di dalam memberikan pelayanan kepada beliau dan seluruh jamah haji Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan petugas agar memastikan seluruh kebutuhan dasar Mbah Mardijiyono terpenuhi, mulai dari makan, istirahat, hingga pendampingan saat menjalankan ibadah wajib.

“Saya pesan kepada petugas klotter dari kita semuanya. Tolong dijaga Bapak ini. Pastikan ibadahnya juga bisa berjalan, tentunya yang fardu-fardu ya. Beliau ingin melaksanakan ibadah sholat, fardu dibantu. Makannya dikontrol, istirahatnya dikontrol. Tolong kalau seandainya tidak memungkinkan, jangan dipaksakan,” tegasnya.

Kisah Mbah Mardijiyono menjadi inspirasi bahwa usia lanjut tidak menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah haji selama memiliki niat, doa, dan semangat yang kuat.

“Kita semua yang datang di sini, jadi saksi bahwa Allah Maha Kaya, Allah Maha Rahim, hamba-hambanya walaupun sepuh dipanggil Allah SWT. Dan kita ini mendapatkan amanah dari Allah untuk merawat beliau,” kata Khalilurrahman.

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x