src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Aldi “Mickey Mouse” menerima paket bantuan dampak COVID-19 dari Gubernur Isran Noor. (Ningsih/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Dari luar, tampilannya lucu dan menggemaskan. Anak-anak sangat menyukainya. Badut, dari berbagai karakter tokoh kartun, memang punya daya tarik tersendiri.
Demi menarik perhatian, sosok di balik badut kerap menirukan tingkah lucu tokoh kartun sebenarnya. Seperti menari, menggoyang-goyangkan badannya sembari melambaikan tangan. Menyapa siapa saja yang lewat sembari mengharap derma.
Di balik kostum badut nan lucu tersebut, ada kisah hidup manusia yang luput dari pandangan mata. Memutuskan untuk memakai kostum badut demi sesuap nasi seperti hendak menyimpan kisah tentang pahit getir kehidupan.
Salah satu yang melakoninya adalah Aldi Wijaya. Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, dia terpaksa membantu kedua orangtuanya untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah.
Awalnya, tak mudah bagi remaja ini untuk mencari pekerjaan. Sebab, dirinya masih bersekolah. Berbekal ajakan seorang teman, pelajar kelas 2 salah satu SMK negeri di Samarinda ini mencoba peruntungan dengan menjadi seorang badut.
Walaupun menjadi badut tidak memerlukan keahlian khusus, tetapi cukup berat bagi Aldi Wijaya. Memakai kostum badut berarti harus mampu menahan panas dan gerah. Dia pun merasakan rasanya bermandikan keringat karena kostum badut yang serba tertutup.
Namun, tekadnya sudah kuat untuk membantu kedua orangtuanya. Remaja ini tinggal di daerah Loa Bakung, Sungai Kunjang bersama dengan kedua orangtuanya dan seorang adiknya yang masih berusia 5 tahun.
Dia menuturkan, ayahnya bekerja sebagai sopir mobil barang di salah satu minimarket. Sedangkan ibunya bekerja di sebuah warung makan.
“Makanya saya mau bantu orangtua. Pertamanya juga diajak teman untuk coba-coba ikut kerja ini, eh… ternyata keterusan sekalinya,” ucapnya pada headlinekaltim.co.
Kini, sudah lebih dari setahun dia melakoni pekerjaan sebagai badut. Bersama dengan 8 orang rekannya yang lain, Aldy biasa memilih lokasi keramaian seperti mal dan dilakukan secara berpindah-pindah. “Biasanya mangkal di Big Mall atau SCP, pindah-pindah sih,” sebutnya.
Dari cerita Aldy, hasil pekerjaan sebagai badut tersebut, sehari dia bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 50 hingga Rp 100 ribu. Tetapi jumlah itu belum dipotong oleh si “bos” atau pemilik sewaan kostum badut.
“Sehari ngga nentu, kalau Rp 100 ribu aja susah, tapi paling sedikit Rp 50 ribu. Itu kalau kondisi hujan seharian sih, tapi biasa di atas itu, terganggu cuaca. Nanti, hasilnya itu dibagi sama bos, kan sistemnya sewa. Jadi 60-40, 60 saya, 40 si bos,” akunya.
TERDAMPAK PANDEMI
Menurutnya, sebelum pandemi COVID-19 mencekik roda ekonomi, pendapatan sebagai seorang badut sangat lumayan. Dalam sehari, dia bisa mengantongi uang Rp 100 ribu. Apalagi jika ada yang punya hajatan dan menyewa badut, Aldi bisa dibayar Rp 200 ribu.
“Kalau di sewa acara misalnya itu bisa dapat Rp 250 ribu atau Rp 200 ribu untuk 1 jam mainnya. Tapi sekarang korona, sepi (pendapatan),” keluhnya.
Aldi mengaku berusaha untuk menyisihkan sedikit uangnya untuk ditabung dan selebihnya membantu orang tua. Tantangan terbesar di balik kostum badut, kata Aldi, adalah cuaca. Jika matahari sedang memamerkan jati dirinya, maka hari itu adalah ‘neraka’.
“Kalau cuaca panas, nggak kuat juga, gerah. Tapi kalau cuaca dingin, ya enak aja. Tergantung cuaca pokoknya. Kita sih biasanya pakai kostum ini gantian, 1 jam gitu, nanti istirahat, nanti pakai lagi,” katanya.
Menjelang sekolah tatap muka, dia mengaku senang meskipun ada rasa khawatir. Sebab, sekolah tatap muka berarti dia tak punya waktu banyak menyisir rupiah dengan berkostum badut.
“Kalau sekarang kan online sekolahnya, belajar masih bisa diselingi, masih bisa ngikutin,” ujarnya.
Tidak malu dengan pekerjaan ini? “Ngapain malu, kan halal,” katanya. Memang, pernah ada momen dia merasa minder. Suatu ketika, dia bertemu dengan teman-teman sekolahnya ketika dirinya melepas kostum badut.
“Kalau ketemu teman, ya pernah. Pas waktu di Big Mall, dia itu (teman, Red.) lewat depan aku, ya aku tunduk saja,” katanya.
Kamis 2 September 2021, adalah hari keberuntungan remaja ini. Tiba-tiba, dia didekati seseorang berseragam PNS dan diajak ke kantor Gubernur Kaltim. Walaupun sempat bingung, Aldi tak menolak.
Ternyata, Aldi menjadi salah satu target penerima bantuan masyarakat terdampak COVID-19 dari Gubernur Kaltim. “Tadi baru mau mulai terus didatangi bapak-bapak, diajak ke sini (kantor Gubernur Kaltim, Red). Nggak bilang apa-apa, pokoknya diajak gitu. Terus saya izin dulu sama Bos, pergi sama teman juga, nyamperin ke sini. Ternyata di sini dikasih paket bantuan dari Pak Gubernur. Terima kasih, Pak Gubernur,” tutupnya.
Penulis: Ningsih
Editor: MH Amal