src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Special Performance Live Painting Seniman Arifuddin. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Seniman Arifuddin mengangkat tema tentang kerusakan hutan dan hilangnya habitat satwa akibat kebakaran hutan dalam penampilan spesial live painting pada Jumat, 30 Oktober 2026. Beberapa karya lukisannya dipajang pada kegiatan “73 Tahun Berau dalam Gambar” di Story Mount.
Melalui karya yang dilukis secara langsung di hadapan pengunjung, ia ingin menyampaikan kerinduan untuk mengembalikan hutan beserta kehidupan yang selama ini bergantung padanya.
Arifuddin mengungkapkan, lukisan tersebut bukan semata-mata menggambarkan burung enggang sebagai ikon Kalimantan. Lebih dari itu, ia ingin memperlihatkan bagaimana satwa liar kehilangan ruang hidup dan harus menghadapi ancaman akibat kerusakan lingkungan.
Bahkan, di balik kanvas yang sedang dikerjakannya, Arifuddin mengaku seolah melihat berbagai satwa seperti rusa, payau hingga orang utan berlarian ketakutan akibat kebakaran hutan.
“Banyak hewan yang selama ini bisa kita lihat dan nikmati, seperti payau, sekarang sudah tidak ada. Itu semua akibat hilangnya habitat mereka. Jadi, malam ini sebenarnya saya hanya ingin mengembalikan hutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pemilihan burung enggang sebagai titik utama lukisan juga memiliki makna tersendiri. Burung yang dikenal sebagai salah satu ikon Kalimantan tersebut memiliki kedudukan sakral dalam kepercayaan sebagian masyarakat Dayak, yang memaknainya sebagai perantara antara dunia atas dan dunia bawah.
Selain itu, burung enggang juga menjadi simbol kepemimpinan. Suara dan kedudukannya yang dianggap tinggi menjadikan burung ini memiliki nilai filosofis yang kuat dalam kebudayaan masyarakat Kalimantan.
Arifuddin mengangkat burung enggang dalam lukisannya merupakan bentuk penghormatan terhadap kekayaan alam sekaligus budaya yang perlu terus dijaga. Kata dia, ketika hutan kehilangan kehidupannya, bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga rumah bagi berbagai satwa yang selama ini menjadi bagian dari kekayaan alam Berau.
Ia juga menilai, proses melukis mengajarkan banyak hal, mulai dari ketekunan, kecermatan, kekuatan, hingga sikap pantang menyerah. Sebab, seorang pelukis harus terus mencari dan mempelajari berbagai kemungkinan sampai menemukan bentuk karya yang ingin diwujudkan.
“Jangan pernah lelah, jangan pernah menyerah. Semangat berproses,” pesannya kepada generasi muda yang ingin menekuni dunia seni lukis.
Melalui penampilan live painting tersebut, Arifuddin juga memperlihatkan bahwa melukis bukan hanya soal kemampuan teknis mencampurkan warna, tetapi bagaimana seorang seniman mampu menghidupkan gagasan dan menyampaikan pesan melalui karya.
“Saya berharap, lukisan ini dapat menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (Riska)