src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kondisi kebakaran lahan di Jalan Padat Karya, RT 20, Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda, kembali membesar pada Jumat (30/10/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kebakaran lahan di kawasan Jalan Padat Karya, RT 20, Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda, kembali membesar pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kobaran api yang berada tidak jauh dari permukiman warga memicu kekhawatiran masyarakat, sementara upaya pemadaman masih terkendala kondisi medan dan keterbatasan sumber air.
Ketua RT 20 Kelurahan Sambutan, Supiansyah, mengatakan titik api pertama kali diketahui warga pada Kamis, 29 Oktober 2026 sekitar pukul 11.00 WITA. Kobaran mulai membesar sekitar pukul 13.00 WITA dan penanganan dilakukan petugas BPBD Kota Samarinda bersama BPBD Provinsi Kalimantan Timur hingga malam hari.
Meski sempat dinyatakan aman setelah penanganan pada Kamis malam, api kembali muncul pada Jumat pagi. Kondisi lahan gambut diduga membuat kebakaran kembali terjadi setelah sebelumnya berhasil dikendalikan.
Menurut Supiansyah, api mulai membesar sekitar pukul 08.00 hingga 10.00 WITA. Kobaran sempat mereda saat pelaksanaan salat Jumat, tetapi kembali membesar setelahnya.
“Sejak kemarin kita mengetahui sekitar jam 11 itu mulai titik api, cuma kejadian yang besar itu kurang lebih jam 1 siang kemarin. Sampai tadi malam dibantu oleh BPBD kota maupun provinsi, tapi sudah aman kata BPBD Provinsi tadi malam, setelah itu pagi tadi langsung menyala kembali karena lahan gambut,” ujar Supiansyah.
Kondisi tersebut membuat warga di sekitar lokasi meningkatkan kewaspadaan. Supiansyah menyebut terdapat dua rumah yang berada dekat dengan titik kebakaran. Salah satunya masih dalam proses pembangunan. Selain itu, terdapat panti asuhan yang juga berdekatan dengan kawasan terdampak.
Untuk mengantisipasi risiko paparan asap, ia telah menghubungi warga yang tinggal di sekitar lokasi agar sementara menjauh. Pengurus panti asuhan juga diminta menggeser anak-anak dan penghuni lainnya ke tempat yang lebih aman.
Supiansyah turut mengarahkan masyarakat untuk sementara menghindari Jalan Padat Karya karena asap kebakaran mulai menyelimuti badan jalan. Warga diminta menggunakan jalur alternatif melalui Jalan Telkom. “Untuk hari ini saya arahkan masyarakat jangan lewat sini dulu. Saya infokan di grup, arah lewat Jalan Telkom,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan penanganan kebakaran melibatkan Satgas Karhutla yang terdiri dari personel Damkar, BPBD Kota Samarinda, BPBD Provinsi Kalimantan Timur, relawan, serta Satpol PP.
Ia menjelaskan kebakaran di kawasan Sambutan diduga masih berkaitan dengan titik api sebelumnya di wilayah RT 6 Pulau Atas. Petugas telah melakukan pemadaman hingga sekitar pukul 03.00 WITA pada Jumat dini hari, sebelum kembali menerima laporan kebakaran di kawasan Sungai Kapih sekitar pukul 08.00 WITA.
Suwarso menyebut luas lahan yang terbakar pada kejadian sebelumnya diperkirakan mencapai 18 hektare. Sementara itu, kebakaran yang terjadi pada Jumat diperkirakan telah meluas sekitar 50 hektare dan belum berhasil dipadamkan.
Kondisi vegetasi berupa semak belukar, pepohonan yang mulai kering, serta rumput membuat api mudah menjalar. Di sisi lain, lokasi kebakaran cukup jauh dari sumber air sehingga petugas harus berulang kali mengambil air untuk mendukung proses pemadaman.
“Karena areanya cukup jauh, sumber air juga agak sulit, harus bolak-balik mengambil sumber air. Sehingga ini menjadi kendala di dalam penanganan,” jelas Suwarso.
Personel Satgas Darat telah berupaya menangani sejumlah titik api. Namun, luas area yang terbakar dan sulitnya medan membuat penanganan membutuhkan dukungan tambahan, terutama dari udara.
Suwarso juga menyampaikan bahwa sejumlah petugas dan relawan sempat mengalami sesak napas saat bertugas. Tim Inafis dan PMI melakukan penanganan terhadap petugas di lokasi. Selain itu, relawan turut mengerahkan drone untuk memantau kondisi kebakaran dari udara dan melihat area yang terdampak.
“Di lapangan juga beberapa petugas dan relawan mengalami sesak nafas, namun di bagian dari teman-teman tim Inafis, PMI, itu dengan cekatan melakukan penanganan yang di lokasi. Bahkan jadi juga ada drone dari relawan melakukan penanganan udara sampai ada yang terjatuh,” tutur dia.
Lebih lanjut, Suwarso mengingatkan kebakaran telah mendekati kawasan permukiman dengan jarak sekitar lima meter. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan segera untuk mencegah dampak yang lebih luas. Kualitas udara yang belum sehat serta penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sejumlah sekolah juga menjadi alasan penanganan perlu dilakukan secara maksimal.
“Harapannya untuk sisi darat sudah cukup maksimal sehingga diperlukan bantuan udara, karena tim-tim relawan yang jumlahnya sangat banyak termasuk dari Damkar, dari BPBD, ini kan mengepung beberapa titik sudah ya. Tapi karena memang sangat luas, dan tanamannya mudah terbakar, ini airnya juga cukup jauh, sumber airnya, ini perlu penanganan dari sisi udara,” demikian Suwarso. (Retno)