src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap perlu diwaspadai, meskipun musim kemarau tahun ini diperkirakan mengalami pergeseran. Kondisi cuaca yang tidak menentu, dengan panas mulai terasa meskipun hujan masih kerap turun, menjadi faktor yang memengaruhi dinamika risiko di lapangan.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi, memaparkan, musim kering tahun ini tidak datang sesuai pola biasanya. Jika sebelumnya diperkirakan mulai pada akhir Juni hingga Agustus, kini kecenderungannya bergeser ke periode yang lebih mundur. “Awalnya kita perkirakan mulai di akhir Juni, di awal Juli, Agustus. Sekarang bergeser mungkin di akhir Juli nih sampai dengan nanti September, Oktober, bahkan November musim keringnya,” jelas Buyung, Sabtu 25 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan gejala peralihan musim yang belum sepenuhnya stabil. Suhu udara mulai meningkat, namun curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah. Situasi ini dinilai cukup membantu dalam menekan potensi meluasnya kebakaran, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.
“Panasnya sudah mulai terasa, tapi masih ada hujan. Alhamdulillah, kalau masih ada hujan dampak kebakarannya tuh relatif lebih sedikit ya, untuk secara umum,” katanya.
Meski demikian, laporan yang diterima BPBD menunjukkan kejadian karhutla tetap terjadi hampir setiap hari di berbagai kabupaten dan kota di Kaltim. Sebagian besar kejadian tersebut dipicu oleh faktor kelalaian manusia, dengan luasan kebakaran yang masih tergolong kecil dan tersebar di beberapa titik.
“Tapi memang dalam laporan kami hampir setiap hari ada salah satu kabupaten/kota yang terjadi karhutla dan rata-rata mungkin karena kelalaian manusia. Rata-ratanya luasannya kemarin terbesar itu yang ada di Kubar ya, tapi kalau ini data yang masuk ke kami ya di bawah 5 hektare,” ungkap Buyung.
Ia menambahkan, wilayah dengan potensi cukup tinggi di antaranya berada di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kutai Barat (Kubar), dan Berau. Namun secara umum, hampir seluruh wilayah di Kaltim memiliki potensi karhutla, terutama di daerah dengan lahan terbuka.
Dalam upaya penanganan, BPBD Kaltim terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan setiap kejadian dapat ditangani secara cepat dan tuntas. Pemantauan juga dilakukan melalui sistem titik panas (hotspot) yang terus diperbarui, meskipun tidak semua hotspot dapat dipastikan sebagai titik api. “Hotspot itu belum tentu titik api. Bisa saja karena panas mineral atau atap seng, jadi tetap harus divalidasi di lapangan,” terangnya.
Selain pemerintah, keterlibatan sektor swasta juga menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan karhutla. Perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi lahan disebut turut berperan melalui tim internal yang disiagakan untuk menghadapi potensi kebakaran. “Dalam bencana ini semua terlibat, bukan hanya pemerintah. Swasta juga punya tim dan ikut siaga jika terjadi kebakaran,” katanya.
Dari sisi kesiapan, Buyung menyebut peralatan penanganan karhutla di tingkat daerah pada dasarnya sudah tersedia dan cukup untuk penanganan awal. Namun, tantangan biasanya muncul ketika kebakaran terjadi dalam skala besar atau di lokasi yang sulit dijangkau.
Jika kondisi memburuk, kata dia, BPBD tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan bantuan tambahan, termasuk langkah modifikasi cuaca guna mengendalikan kebakaran. Meski begitu, keselamatan petugas di lapangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanganan. “Kalau diperlukan kita bisa minta bantuan, termasuk modifikasi cuaca. Tapi yang utama, penanganan tetap harus memperhatikan keselamatan petugas di lapangan,” pesan Buyung. (Retno)