src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)
HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) menanggapi adanya keluhan masyarakat terkait data pemeriksaan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang muncul meskipun yang bersangkutan merasa tidak pernah menjalani pemeriksaan. Akibatnya, muncul dugaan adanya fasilitas kesehatan mengejar target capaian layanan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengaku baru menerima informasi tersebut dan memastikan akan menindaklanjutinya jika benar terjadi di lapangan. Ia menegaskan, pencatatan layanan kesehatan saat ini sudah terintegrasi secara digital melalui aplikasi Satu Sehat sehingga setiap aktivitas di fasilitas kesehatan semestinya terekam dengan jelas dan dapat ditelusuri.
“Kalau masih ada yang begitu, laporkan ke kita. Saya mau cek. Karena ini berbahaya, tidak diperiksa kok tercatat. Sekarang kita sudah pakai Satu Sehat, bukan PeduliLindungi lagi,” ujarnya, Sabtu 25 Juli 2026.
Ia menilai, kasus munculnya data pemeriksaan tanpa aktivitas nyata bisa disebabkan berbagai kemungkinan, mulai dari kesalahan sistem hingga potensi gangguan keamanan digital. Jaya mengibaratkan kondisi tersebut seperti transaksi mencurigakan pada layanan perbankan digital yang tiba-tiba muncul tanpa dilakukan oleh pemilik akun.
“Semua aktivitas di faskes itu tercatat. Kalau tiba-tiba muncul data padahal kita tidak periksa, itu seperti transaksi di m-banking yang tidak kita lakukan. Bisa saja error atau ada yang mencoba masuk ke sistem,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak ragu melapor apabila menemukan kejanggalan pada data kesehatan mereka. Laporan itu, kata Jaya, penting agar bisa segera dilakukan pelacakan dan penelusuran lebih lanjut terhadap sumber masalahnya. “Kalau ada kasus seperti itu, segera lapor. Saya akan lacak. Itu bukan perilaku faskes, bisa jadi ada yang mencoba mengakses sistem,” tegas Jaya.
Di sisi lain, ia juga meluruskan anggapan fasilitas kesehatan dibebani target tinggi dalam program CKG. Jaya mengungkap, tidak ada kewajiban untuk memaksakan capaian dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Justru, kondisi di lapangan menunjukkan tingkat kunjungan masyarakat masih tergolong rendah.
Ia menyebut, secara kapasitas, satu Puskesmas bisa melayani hingga 30 kunjungan per hari. Namun, realisasinya saat ini masih jauh dari angka tersebut. Dari sekitar 212 ribu warga yang telah terdaftar dalam program selama lebih dari satu tahun terakhir, baru sekitar 165 ribu yang benar-benar datang untuk melakukan pemeriksaan. “Kalau dihitung, satu puskesmas itu rata-rata hanya sekitar dua orang per hari. Kadang satu, kadang bahkan nol. Padahal kapasitasnya bisa sampai 30 orang,” ungkapnya.
Rendahnya partisipasi masyarakat ini, lanjutnya, menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program CKG. Program tersebut pada dasarnya mengandalkan kesadaran dan keaktifan masyarakat, bukan sekadar target administratif yang harus dipenuhi oleh fasilitas kesehatan.
Selain itu, sejumlah kendala juga masih dihadapi, mulai dari kurangnya sosialisasi, akses ke fasilitas kesehatan yang belum merata, hingga anggapan proses pendaftaran yang rumit. Padahal, saat ini, masyarakat sudah bisa langsung datang ke Puskesmas tanpa harus menunggu momen tertentu seperti ulang tahun, sebagaimana aturan sebelumnya. “Sekarang bebas, tidak harus menunggu ulang tahun. Minimal setahun sekali, mau dua kali juga boleh. Tinggal datang saja ke Puskesmas untuk cek kesehatan,” tutur Jaya. (Retno)