26.1 C
Samarinda
Friday, July 12, 2024

Kasus Perundungan Siswa SMP di PPU Masuk Tahap Penyelidikan

HEADLINEKALTIM.CO, PENAJAM – Kasus perundungan yang menimpa seorang pelajar kelas IX di salah satu SMP Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tengah diselidiki Satreskrim Polres PPU.

Kapolres PPU AKBP Hendrik Eka Bahalwan melalui Kasat Reskrim Iptu Dian Kusnawan mengatakan, penganiayaan terhadap pelajar berinisial F terjadi pada Senin 26 September 2022 sore di lingkungan Sekolah. Kasus tersebut dilaporkan ke Polres PPU pada Selasa 27 September 2022.

Saat ini, sambung Iptu Dian, penyidik Satreskrim Polres PPU telah memintai keterangan sebanyak lima orang saksi termasuk keterangan korban dan pelaku.

“Korban, pelaku dan pihak sekolah sudah kita mintai keterangan, sampai hari ini sudah ada lima orang dimintai keterangan” ungkap Iptu Dian Kusnawan, Jumat, 30 September 2022..

Namun, penyidik belum menetapkan status tersangka terhadap pelajar kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menjadi pelaku penganiayaan.

“Kami masih melakukan penyelidikan, Korban juga sudah divisum,” ujarnya.

Iptu Dian Kusnawan juga mengatakan pelaku dan korban masih anak di bawah umur sehingga masih dibukakan ruang untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

“Sudah ada upaya pihak sekolah untuk diselesaikan kekeluargaan, tetapi belum ada titik temunya. Seumpamanya nanti mau diselesaikan secara kekeluargaan, itu terbuka lebar,” jelasnya.

Sebelumnya, pelajar kelas IX SMP swasta di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penganiayaan di lingkungan sekolah. Korban berinisial F mengalami luka lebam di bagian mata, rahang dan mengalami kesakitan di bagian perut.

Ibu korban, Rusdianti menceritakan, anak laki-lakinya tinggal di asrama yang ada di lingkungan sekolah mengalami perundungan yang dilakukan oleh pelajar kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA). Penganiayaan itu terjadi lantaran ada kesalahpahaman oleh pelaku. Pelajar SMA itu merasa di olok-olok saat lewat di depan korban.

“Waktu kejadian anak saya bersama keempat temannya di panggil ke belakang sekolah kemudian dijejer. Pelaku yang merasa diolok-olok karena tidak mendapatkan jawaban dari kelima anak itu kemudian pelaku pun menerjang anak saya sampai tersungkur di pagar,” kata Rusdianti,

Rusdianti menyatakan, kejadian penganiayaan yang menimpa anaknya tersebut terjadi di luar jam belajar sekolah.

“Kejadiannya setelah Ashar, di luar jam sekolah. Karena anak saya tinggal di asrama sekolah,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, pihak sekolah pun telah mencoba menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Namun, kasus perundungan ini tetap di bawah ke ranah hukum. Korban pun telah divisum pada Kamis 29 September 2022.

“Hasil visumnya belum keluar. Kami dari pihak korban akan menyelesaikan kasus ini secara hukum,” terangnya.

Penulis: Teguh

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER