src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Jalan Kaki vs Lari: Mana yang Paling Efektif Turunkan Berat Badan? Ini Penjelasan Lengkapnya

Jalan Kaki vs Lari: Mana yang Paling Efektif Turunkan Berat Badan? Ini Penjelasan Lengkapnya

3 minutes reading
Monday, 3 Nov 2025 14:32 138 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Perdebatan jalan kaki vs lari kembali mencuat, terutama di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan secara praktis dan murah. Kedua aktivitas fisik ini dikenal mudah dilakukan, hanya membutuhkan sepatu yang nyaman, serta menawarkan manfaat kesehatan yang luas.

Dilansir dari CNN Indonesia, pembahasan jalan kaki vs lari menegaskan bahwa keduanya merupakan olahraga kardio yang mampu membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Selain mendukung penurunan berat badan, aktivitas ini juga memberikan manfaat tambahan seperti meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, serta memberikan efek positif bagi kesehatan mental.

Mengutip Healthline, penelitian tahun 2020 menunjukkan bahwa jalan kaki vs lari sama-sama berperan menurunkan tingkat kecemasan dan depresi. Suasana hati pun turut membaik setelah melakukan latihan rutin. Meski demikian, ketika membahas pembakaran kalori, lari memiliki keunggulan karena mampu membakar kalori hingga dua kali lipat lebih banyak dari jalan kaki.

Dalam konteks jalan kaki vs lari, bukan berarti jalan kaki tidak efektif. Ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk berlari, jalan kaki tetap mampu menjadi alternatif yang efektif, asalkan dilakukan dengan teknik yang tepat. Intensitas cepat, penggunaan beban ringan, serta memilih jalur menanjak dapat membantu meningkatkan pembakaran kalori secara signifikan.

Bagi pemula, pilihan antara jalan kaki vs lari perlu disesuaikan dengan kondisi fisik. Jika baru memulai olahraga, disarankan untuk memilih jalan kaki jarak pendek terlebih dahulu sebelum meningkatkan intensitas secara bertahap. Berjalan santai dengan kecepatan sekitar 3 kilometer per jam bahkan dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 31 persen.

Dari segi pembakaran energi, data WebMD menunjukkan perbandingan menarik dalam konteks jalan kaki vs lari. Seseorang dengan berat 72 kilogram yang berjalan kaki selama 30 menit pada kecepatan 5 km/jam membakar sekitar 156 kalori. Namun jika berlari dengan kecepatan 10 km/jam selama durasi yang sama, kalori terbakar bisa mencapai 356 kalori lebih dari dua kali lipat.

Pertimbangan lain dalam diskusi jalan kaki vs lari adalah dampak terhadap tubuh. Jalan kaki termasuk olahraga low-impact karena salah satu kaki selalu menyentuh tanah. Sebaliknya, lari adalah olahraga high-impact yang menimbulkan tekanan hingga tiga kali berat badan saat kaki mendarat. Kondisi ini membuat pelari memiliki risiko cedera lebih tinggi.

Sebuah studi menyebutkan bahwa 19–79 persen pelari pernah mengalami cedera akibat penggunaan berlebihan. Bahkan berlari sekali seminggu pun bisa memicu risiko cedera, terutama jika intensitas dan jarak lari ditambah terlalu cepat.

Meski demikian, aspek mental juga patut dipertimbangkan dalam menentukan jalan kaki vs lari. Menurut Very Well Health, kedua aktivitas ini memberikan manfaat fisik dan mental yang signifikan, mudah dilakukan tanpa peralatan khusus, serta bisa menjadi sarana berinteraksi sosial jika dilakukan bersama komunitas.

Pada akhirnya, memilih jalan kaki vs lari kembali pada kondisi fisik, preferensi pribadi, dan tujuan kebugaran masing-masing. Keduanya efektif menurunkan berat badan selama dilakukan secara konsisten. Yang terpenting, kenyamanan dan keberlanjutan rutinitas olahraga menjadi kunci keberhasilan program penurunan berat badan.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x