src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi vaksin. Ilmuwan Akhirnya Pecahkan Misteri Pembekuan Darah Langka Terkait Vaksin Covid-19 (Freepik/Kompas.com) HEADLINEKALTIM.CO – Setelah bertahun-tahun penelitian, para ilmuwan akhirnya mengungkap penyebab efek samping langka yang terjadi pada sebagian kecil penerima vaksin COVID-19 berbasis adenovirus, yakni produksi AstraZeneca (Oxford) dan Johnson & Johnson.
Dilansir dari kompas.com, temuan ini dinilai penting karena membuka peluang pengembangan vaksin berbasis teknologi serupa yang lebih aman di masa depan.
Berbeda dengan vaksin mRNA seperti Pfizer dan Moderna, vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson menggunakan platform vektor adenovirus. Teknologi ini memanfaatkan virus pembawa yang telah dimodifikasi agar tidak berbahaya untuk mengantarkan bagian kecil virus target ke dalam tubuh, sehingga memicu respons imun.
Platform adenovirus sebenarnya bukan hal baru dan sebelumnya telah diuji untuk penyakit lain seperti MERS. Inilah yang memungkinkan pengembangan vaksin COVID-19 dilakukan dengan cepat saat pandemi.
Namun, dalam penggunaan massal ditemukan efek samping sangat jarang yang dikenal sebagai trombositopenia dan trombosis imun yang diinduksi vaksin (VITT). Kondisi ini serius karena menyebabkan pembekuan darah disertai penurunan jumlah trombosit secara signifikan.
Penelitian lanjutan menemukan bahwa VITT dipicu oleh autoantibodi tidak biasa terhadap protein manusia bernama platelet factor 4 (PF4).
Tim ilmuwan internasional yang dipimpin peneliti dari Flinders University berhasil menelusuri mekanisme detail di balik reaksi ini.
Pada 2022, Profesor Tom Gordon dan Dr. Jing Jing Wang mengidentifikasi adanya faktor risiko genetik yang membuat sebagian orang lebih rentan membentuk autoantibodi terhadap PF4. Setahun kemudian, studi lanjutan menunjukkan risiko serupa juga bisa muncul setelah paparan adenovirus alami penyebab flu biasa.
Artinya, respons imun tersebut tidak sepenuhnya unik pada vaksin, melainkan berkaitan dengan karakter adenovirus itu sendiri.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada 11 Februari 2026, para peneliti menggunakan analisis molekuler canggih untuk menjelaskan mekanisme pastinya.
Mereka menemukan bahwa pada sebagian orang, sistem imun keliru mengenali protein adenovirus sebagai PF4 manusia. Kesalahan identifikasi ini memicu pembentukan autoantibodi dan mengaktifkan reaksi pembekuan darah berbahaya.
Menurut Dr. Wang, protein adenovirus tertentu dapat dimodifikasi atau dihilangkan dalam pengembangan vaksin generasi berikutnya. Pendekatan ini berpotensi mencegah efek samping langka tanpa mengurangi efektivitas perlindungan terhadap penyakit.
Temuan ini menunjukkan bagaimana sains dan regulasi bekerja secara dinamis. Setelah efek samping terdeteksi, strategi distribusi vaksin segera disesuaikan untuk melindungi kelompok berisiko. Sementara itu, penelitian terus dilakukan hingga berhasil mengungkap dasar genetik dan struktural dari respons imun yang tidak biasa tersebut.
Hasil penelitian ini menjadi langkah penting dalam pengembangan vaksin berbasis adenovirus yang lebih aman di masa depan, sekaligus memperkaya pemahaman ilmiah tentang respons imun manusia.