src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Wali Kota Samarinda Andi Harun diwawancarai usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kota Samarinda di Hotel Fugo, Sabtu (8/8/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan pentingnya menjaga kualitas demokrasi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2029. Hal itu ia sampaikan usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kota Samarinda di Hotel Fugo, Sabtu 8 Agustus 2026.
Di tengah mulai bergeraknya mesin politik partai-partai, Andi Harun menilai arah dukungan publik ke depan tidak lagi semata ditentukan oleh popularitas, tetapi juga oleh kualitas kandidat yang ditawarkan. Ia menyebut, preferensi pemilih kini semakin rasional, terutama dalam menentukan figur kepala daerah.
Dalam Pilkada mendatang ia secara pribadi akan cenderung memberikan dukungan kepada calon yang membawa gagasan kuat, berkomitmen pada keberlanjutan pembangunan, serta menjunjung tinggi proses demokrasi yang sehat.
“Saya bertekad akan mendukung calon kepala daerah yang benar-benar mengusung tentang kualitas, mengusung tentang keberlanjutan, dan yang ketiga mengusung tentang Pilkada yang sehat,” tuturnya.
Praktik politik uang, sebut dia, masih menjadi ancaman serius dalam kontestasi politik. Kandidat yang mengandalkan kekuatan finansial besar, lanjutnya, berpotensi melahirkan kepemimpinan yang bermasalah di kemudian hari.
“Karena setiap kepala daerah yang menghabiskan uang banyak, kita enggak bisa jamin kalau tidak menimbulkan efek kepemimpinan yang koruptif, yang berpikir bagaimana mengembalikan dengan cara-cara yang tidak benar,” tukas Andi Harun.
Ia menilai, pengalaman Pilkada sebelumnya menunjukkan adanya perbaikan kualitas demokrasi di Samarinda. Andi Harun melihat masyarakat mulai lebih cerdas dalam menentukan pilihan dan tidak lagi mudah dipengaruhi oleh praktik pembagian uang.
Sebab itu, ia mendorong para calon kepala daerah ke depan berani menyatakan komitmen untuk tidak menggunakan cara-cara instan dalam meraih dukungan. “Silakan maju, tapi usung politik yang bermartabat dan kualitas Pilkada yang berkualitas. Salah satu di antara implementasinya, syukur-syukur kita kalau maju enggak lagi mengandalkan money politic,” katanya mengingatkan.
Sebagai kader Partai Gerindra, Andi Harun juga menegaskan posisinya tetap berada dalam garis kebijakan partai. Namun, dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah, ia membuka ruang bagi seluruh partai politik untuk berkompetisi secara sehat dalam Pilkada mendatang.
Dikatakannya, setiap partai memiliki peluang yang sama selama mampu menghadirkan kandidat dengan integritas dan program yang jelas bagi masyarakat.. Lebih jauh, Andi Harun menyebut tingkat kesadaran politik masyarakat Samarinda terus meningkat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan teori partisipasi politik yang menunjukkan bahwa publik semakin kritis terhadap kualitas demokrasi.
Dalam beberapa kontestasi terakhir, ia melihat praktik politik uang tidak lagi sepenuhnya efektif memengaruhi pilihan pemilih. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang tetap memilih berdasarkan pertimbangan rasional meskipun menerima uang.
“Kalaupun masih ada, ya mungkin uangnya akan diambil, tapi tetap masyarakat akan memilih calon yang berkualitas,” ujarnya.
Menurut dia, persepsi sebagian politisi yang menganggap pemberian uang otomatis berbanding lurus dengan dukungan suara merupakan kekeliruan yang harus diluruskan. Masyarakat, lanjutnya, tidak bisa disalahkan dalam situasi tersebut karena praktik pemberian justru datang dari kandidat itu sendiri.
“Banyak yang uangnya diambil dan masyarakat juga enggak bisa disalahkan, kan masyarakat enggak minta. Mereka dikasih tapi seolah-olah kalau dikasih, persepsinya politisi kalau dikasih wajib milih saya, itu yang keliru,” pungkas Andi Harun. (Retno)