src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa saat menyampaikan laporannya dalam Rapat Koordinasi Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Berau Tahun 2026. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau tengah menyiapkan arah baru pembangunan pariwisata dengan mengusung konsep “Sustainable Water-Based Tourism” atau pariwisata berbasis air yang berkelanjutan. Konsep ini menjadi salah satu gagasan utama dalam revisi Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Berau.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan revisi RIPPARDA menjadi langkah penting seiring ditetapkannya pariwisata sebagai sektor unggulan dalam RPJMD Kabupaten Berau 2025–2029. Dinamika pembangunan dan perubahan paradigma pariwisata membuat dokumen tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan terkini.
“Revisi ini sangat krusial karena mengakomodasi perubahan paradigma pariwisata menuju pariwisata berkelanjutan,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Berau Tahun 2026 pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurutnya, konsep baru tersebut juga diarahkan untuk mengintegrasikan potensi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, sekaligus mempersiapkan Berau sebagai salah satu beranda utama pariwisata Kalimantan Timur dan mitra destinasi bagi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Rakor ini juga menjadi ruang untuk menyatukan langkah lintas sektor. Tidak hanya melibatkan perangkat daerah, tetapi juga instansi vertikal, kecamatan, kampung dan kelurahan, PHRI, perbankan, dunia usaha hingga berbagai pemangku kepentingan pariwisata.
“Yang ingin kita bangun adalah kolaborasi pentahelix antara pemerintah, swasta, BUMN, BUMD, masyarakat, akademisi, media, dan seluruh ekosistem pariwisata yang ada di Kabupaten Berau,” jelasnya.
Yudha menambahkan, saat ini Berau telah menetapkan 65 daya tarik wisata melalui SK Bupati Nomor 133 Tahun 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 35 daya tarik wisata alam, 12 wisata budaya, dan 18 wisata buatan yang tersebar di 13 kecamatan.
“Berau juga memiliki posisi penting dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Dari 26 geosite yang ada, sebanyak 15 berada di wilayah Kabupaten Berau,” tuturnya.
Sebagian geosite tersebut bahkan telah dikembangkan sebagai destinasi wisata yang menggabungkan aspek pelestarian budaya, pendidikan, konservasi, serta peningkatan ekonomi masyarakat melalui konsep geowisata.
Ketua Tim Ahli Pariwisata, Haryadi Darmawan, menjelaskan konsep water-based tourism tidak muncul secara tiba-tiba. Tim penyusun sebelumnya telah melakukan sejumlah kajian, mulai dari master plan kawasan perkotaan, pengembangan Kota Teluk Bayur, daya dukung Pulau Kakaban hingga master plan Pulau Kaniungan.
Dari berbagai kajian tersebut, tim melihat satu kekuatan yang menyatukan banyak destinasi Berau, yakni kekayaan sumber daya air. “Berau ini kaya akan air. Baik itu air tawar, air danau, maupun air laut. Sehingga usulan positioning dalam draf RIPPARDA Kabupaten Berau adalah water-based tourism atau destinasi pariwisata berbasis air,” ungkapnya.
Konsep tersebut nantinya tidak hanya menjadi slogan promosi, tetapi menjadi dasar untuk menyatukan berbagai program pembangunan pariwisata lintas organisasi perangkat daerah. Dalam rancangan tersebut, wilayah pariwisata Berau dibagi menjadi lima Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK). DPK 1 meliputi Tanjung Redeb, Sambaliung, Teluk Bayur dan Gunung Tabur dengan karakter kawasan perkotaan dan sejarah.
DPK 2 mencakup Derawan dan Maratua yang diarahkan pada konsep regenerative marine-based tourism. Sementara DPK 3 meliputi Batu Putih dan Biduk-Biduk dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan, termasuk potensi Pulau Kaniungan Besar.
Selanjutnya, DPK 4 mencakup Biatan dan Talisayan dengan pengembangan kawasan alam rekreatif. Sedangkan DPK 5 meliputi Segah dan Kelay. “Kekuatan tersebut menjadi modal penting untuk membangun identitas pariwisata Berau hingga 2045,” ungkapnya.
Dalam draf revisi RIPPARDA, tim ahli mengusulkan visi “Berau sebagai Water-Based Tourism Destination 2045”, yakni destinasi pariwisata berbasis air yang berdaya saing, inklusif dan berkelanjutan.
Paradigma tersebut sekaligus menggeser pendekatan RIPPARDA sebelumnya yang lebih berfokus pada pengembangan potensi dan daya tarik wisata. Ke depan, pembangunan diarahkan pada penciptaan nilai lokal, ekonomi inklusif, ekonomi berbasis komunitas serta keberlanjutan lingkungan.
“Ini bukan hanya sekadar promosi, tetapi menjadi simpulan lintas kajian sehingga nantinya bisa menyatukan seluruh peran OPD dalam penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Berau,” katanya.
Selain kekayaan alam dan bahari, tim ahli juga melihat peluang penguatan produk budaya dan ekonomi kreatif, khususnya batik dan cokelat Berau, sebagai bagian dari pengalaman wisata sekaligus produk yang dapat dibawa pulang wisatawan. (Riska)