24.5 C
Samarinda
Sabtu, April 17, 2021

Dishut Kaltim dan KPH Santan Ingin Kelola Perkebunan Ekalitus, Veridiana: Terhambat Permenhut

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim berencana menggandeng Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di daerah Santan Kecamatan Muara Badak Kutai Kartanegara, untuk mengelola perkebunan ekalitus.

Namun, rencana tersebut terhambat adanya Peraturan Menteri Kehutanan yang setiap tahunnya selalu terbit lebih lambat.

“Untuk tahun ini baru disampaikan peraturan baru tanggal 19 Februari kemarin. Padahal dengan peraturan itu mereka bisa mendapatkan anggaran yang sudah diberikan di 2021, sehingga kemungkinan prosesnya berjalan Mei baru direalisasikan,” ujar Ketua Komisi II DPRD Kaltim Veridiana Huraq Wang.

Akibat kondisi ini, menyebabkan Dinas Kehutanan Kaltim dan KPH tak bisa memanfaatkan belanja yang diberikan sekitar Rp 217 miliar.

“Belanja yang sudah diberikan itu kurang lebih Rp 217 miliar akhirnya tidak bisa dimanfaatkan, karena belum ada peraturan Menteri Keuangan,” ujar Veridiana.

Untuk mengatasi masalah ini, kini Komisi II DPRD Kaltim mendorong pimpinan Dewan agar bisa diterbitkannya Peraturan Gubernur.

“Peraturan Menteri Keuangan baru datang 19 Februari kemarin, sehingga mereka (Dishut Kaltim) minta Komisi II untuk menyampaikan kepada pimpinan dewan, untuk mendorong supaya diterbitkannya Peraturan Gubernur, mendahului pelaksanaan APBD-P,” sambungnya.

Peraturan Gubernur dapat dikeluarkan lebih awal. Namun jika harus menunggu dari Kemendagri, maka prosesnya akan panjang.

Dikhawatirkan akan menjadi kendala berkepanjangan untuk Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim melaksanakan program-program kerjanya terutama kerjasama dengan KPH Santan untuk perkebunan ekalitus.

Sekretaris Fraksi PDI-P ini mengungkapkan, nantinya tidak hanya akan mengelola perkebunan ekalitus saja, Pemprov Kaltim juga akan memberikan dukungan anggaran pada KPH untuk membangun pabrik pengelolaan hasil perkebunan ekalitus.

Veridiana juga mengatakan perkebunan ekalitus saat ini banyak di kelola masyarakat memiliki banyak manfaat, diantaranya bisa untuk bahan baku kosmetik dan pengelolaan minyak atsiri yang mampu hasilkan omset miliaran rupiah per tahun. Yang sudah berjalan perkebunan ekalitus contohnya di Yogyakarta.

“Faktanya daun ekalitus cukup mahal, digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan sebagainya. Dari sana pendapatan juga lumayan, setiap tahun mencapai miliaran,” beber Veridiana Huraq Wang.

Verdiana optimis perkebunan ekalitus bisa diwujudkan apalagi ada bantuan modal untuk masyarakat yang disalurkan melalui KPH. Saat ini, ada 20 KPH yang mendapatkan alokasi angggaran sebesar Rp 10 miliar per KPH.

“Sekarang ada perkebunan yang menanam kayu ekalitus (di Santan), mereka cuma menanam, sedangkan kayunya dibuang. Padahal daunnya bisa diambil untuk membuat minyak Atsiri, yang harganya cukup mahal,” katanya. (Advetorial)

Penulis : Ningsih

Editor: Amin

 

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar