src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Festival Budaya Lesung Osap 2026, Menjaga Tradisi di Bena Baru

Festival Budaya Lesung Osap 2026, Menjaga Tradisi di Bena Baru

3 minutes reading
Thursday, 21 May 2026 19:53 0 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Masyarakat Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau menyambut kembali Festival Budaya Lesung Osap 2026 pada Kamis, 21 Mei 2026. Bagi masyarakat Dayak Kenyah di Bena Baru, Lesung Osap bukan sekadar festival tahunan. Ini adalah cerita tentang kehidupan, tentang hubungan manusia dengan alam, dan tentang rasa syukur yang diwariskan lintas generasi.

Festival yang digelar selama tiga hari, mulai 21 – 23 Mei 2026 itu dibuka secara resmi oleh Asisten I Setda Berau, Hendratno. Namun jauh sebelum tamu undangan datang, masyarakat kampung sudah sibuk mempersiapkan segalanya. Ibu-ibu menyiapkan hidangan tradisional, para pemuda menghias arena acara, sementara anak-anak berlatih tarian yang akan mereka tampilkan.

Puncak perhatian pada pembukaan festival tertuju pada tarian kolosal yang dibawakan warga kampung. Lewat gerak dan musik tradisional, mereka menceritakan perjalanan masyarakat Dayak Kenyah saat berladang padi. Mulai dari membuka hutan, menanam benih, menjaga tanaman dari hama, hingga panen yang disambut penuh sukacita.

Tarian tersebut juga melambangkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah. Para penari tampil dengan gerakan yang lembut, anggun, dan teratur, mengikuti irama musik tradisional yang mengalun perlahan. Setiap gerakan menggambarkan keharmonisan masyarakat adat dengan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.

Bagi masyarakat Bena Baru, menjaga budaya bukan hanya soal mempertahankan ritual lama. Lebih dari itu, budaya menjadi cara untuk menjaga identitas di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat. Namun di balik kemeriahan festival, ada pesan yang terus dijaga masyarakat adat yaitu hubungan manusia dengan alam harus tetap seimbang.

Nilai itu tercermin dalam setiap prosesi budaya yang ditampilkan, terutama dalam tradisi pascapanen yang menjadi penutup festival. Denting lesung bukan sekadar bunyi kayu yang dipukul bergantian. Ia adalah suara ingatan, tentang warisan yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan waktu.

Hendratno menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan tokoh adat yang terus merawat tradisi Lesung Osap agar tetap hidup hingga sekarang. “Festival budaya seperti ini bukan hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga mampu memperkenalkan kekayaan budaya Berau kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Berau juga terus memberikan perhatian besar bagi kekayaan budaya di Bumi Batiwakkal. Ia berharap kampung Bena Baru ini dapat terus eksis sebagai kampung budaya. Pasalnya, Bena Baru merupakan salah satu kampung dengan komunitas Dayak terbesar di Kabupaten Berau.

“Destinasi wisata Berau tidak hanya berorientasi pada wisata alam bahari saja tetapi juga wisata budaya yang masih terawat dan terjaga keasliannya,” ungkapnya.

Kata dia, dengan merawat kebudayaan dan menempatkannya sebagai aset yang berharga, maka potensi Pariwisata di Bumi Batiwakkal dapat terus berkembang dan meningkat ke depannya. “Saya minta Dinas terkait selalu melakukan pendampingan dan pembinaan kepariwisataan kepada seluruh kampung yang ada di Kabupaten Berau,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x