src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih Mas, menegaskan pentingnya edukasi dan perubahan pola pikir masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem laut dan terumbu karang yang menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata di Bumi Batiwakkal.
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah yang hanya berjalan selama masa jabatan kepala daerah maupun pejabat tertentu. Pelestarian harus dibangun menjadi kebiasaan masyarakat agar dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. “Sekali lagi, saya tidak selamanya menjadi kepala daerah. Bapak/Ibu tidak selamanya menjadi kepala dinas, sekretaris, dan kepala bidang. Kita digantikan oleh generasi-generasi yang akan datang,” ujarnya.
Ia menilai edukasi menjadi kunci untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan merupakan kepentingan bersama. Dengan edukasi yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang diwariskan lintas generasi.
“Ketika menjadi kebiasaan kita dengan merubah pelan-pelan secara mengedukasi masyarakat pola pikir mereka, itu akan menjadi kebiasaan turun-temurun yang perlu kita lakukan secara bertahap dan berkesinambungan,” jelasnya.
Sri mengingatkan, tanpa edukasi yang kuat, kerusakan lingkungan akan menjadi ancaman serius bagi masa depan pariwisata Berau. Kerusakan laut dan terumbu karang, kata dia, pada akhirnya dapat menghilangkan daya tarik wisata yang selama ini menjadi salah satu keunggulan daerah.
Ia mencontohkan adanya kapal dari luar daerah yang diduga melemparkan jangkar di kawasan terumbu karang tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak setempat. Tindakan tersebut dinilai berpotensi merusak ekosistem karang yang telah dijaga dan dirawat masyarakat.
Menurutnya, menjaga laut bukan hanya soal mempertahankan keindahan alam hari ini, tetapi juga memastikan potensi pariwisata Berau tetap dapat dinikmati dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat hingga generasi mendatang. “Yang saya khawatirkan, ketika anak-anak, masyarakat tidak kita edukasi dengan cara-cara yang seperti ini, maka akhirnya laut akan rusak, terumbu karang akan rusak, yang mana pada akhirnya daya tarik wisata pun akan hilang,” tegasnya.
Oleh karena itu, Bupati Berau mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, DPRD, Kejaksaan hingga jajaran Forkopimcam dalam menjaga kawasan wisata dan lingkungan laut.
Sri juga menyampaikan rencana untuk berkoordinasi dengan DPRD serta unsur Forkopimda guna memperkuat regulasi melalui Peraturan Daerah (Perda). Regulasi tersebut diharapkan dapat mengatur aktivitas kapal dari luar daerah yang masuk ke wilayah perairan Berau, termasuk mekanisme izin dan pendampingan agar kapal tidak sembarangan berlabuh maupun menjatuhkan jangkar di kawasan terumbu karang.
Dengan pengawasan dan pendampingan yang lebih kuat, kapal-kapal yang datang ke Berau diharapkan dapat memahami kawasan mana yang diperbolehkan untuk menjadi lokasi tambat serta kawasan yang harus dilindungi. “Apalagi dengan membawa kapal dari luar, tanpa izin dari daerah yang bersangkutan. Sehingga ketika demikian, kita yang memahami akan daerah kita bisa memberikan pendampingan kepada kapal-kapal yang datang untuk tidak tambat sembarangan, apalagi melempar jangkar di tengah-tengah karang yang sudah kita rawat sedemikian rupa,” pungkasnya. (Adv75/Riska)