src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Aris, pemancing yang bertahan dengan jeriken usai kapalnya tenggelam. (foto: iwan/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Tujuh dari delapan pemancing selamat dan kembali berkumpul dengan keluarganya setelah kapal mereka tenggelam di Teluk Balipapan, Kamis 29 Oktober 2020 lalu.
Salah seorang pemancing, Aris menceritakan detik – detik upaya mereka bertahan hidup di laut setelah kapal mereka tenggelam akibat menabrak potongan kayu.
Aris menuturkan, saat kapal mereka tenggelam, dirinya sempat mendapatkan pelampung. Bungkus pelampung dirobeknya. Dia kemudian melemparkannya ke rekan – rekannya yang lebih dulu tercebur ke laut.

Sandi Nugroho, pemancing yang hingga kini belum ditemukan. (foto: istimewa)
Dia sendiri memotong jeriken kecil yang ada di jangkar kapal untuk mengapung guna bertahan hidup. Namun, ketika loncat ke laut, dirinya justru terseret arus hingga menjauh dari keenam rekannya.
“Rekan – rekan saya sempat berteriak agar saya tetap berkumpul dengan mereka. Tapi karena arus laut yang kuat, saya tidak bisa mendekat. Saya sempat teriak minta mereka jaga tenaga untuk bisa bertahan di laut,” ujarnya.
Kemudian tak lama berselang, Aris sempat melihat rekannya, Sandi Nugroho, mencoba kembali ke kapal dan menarik jeriken. Sayangnya, setelah itu dia semakin menjauh dari kapal.
Sandi Nugroho merupakan pemancing yang dilaporkan hilang dan hingga saat ini masih dicari oleh tim SAR gabungan.
Adapun kelima rekannya yang lain berkumpul jadi satu di dekat rig yang terdekat dengan Balikpapan. “Mereka sempat mencoba mendekat ke rig, tapi tidak bisa karena gelombang laut yang cukup besar saat kejadian. Jadi saya menghapalkan posisi kelimanya, agar ketika ada yang menolong saya, saya bisa segera memberi tahu posisi mereka,” timpalnya.
Hingga hari semakin larut dan gelap, Aris tetap mencoba bertahan hidup dengan mengapung di atas permukaan air. Meski tidak hujan, namun cuaca malam itu diakuinya cukup menyeramkan. Gelombang dan arus laut sangat tidak bersahabat.
Nasib baik baru terjadi pada pagi harinya. Kapal berbendera Vietnam melintas. Aris ditolong awak kapal. Ternyata, kelima rekannya sudah lebih dulu berada di atas kapal. Seorang rekannya ditolong kapal nelayan. Tersisa Sandi. Hingga kini dinyatakan hilang.
“Saya berharap Sandi bisa segera diketemukan,” pungkasnya sembari menangis ketika dimintai keterangan oleh petugas.
Keluarga Sandi Nugroho tak pupus harapan. Hampir setiap saat, mereka mendatangi dan menanyakan kepada petugas terkait perkembangan upaya pencarian pemancing yang hilang ini.
Kakak Ipar korban, Ahmad Munif menuturkan pihak keluarga sangat resah. Sandi diketahui sudah lama tinggal di Balikpapan meskipun masih punya KTP Cilacap, Jawa Tengah. Dia tinggal bersama Munif di kawasan Graha Indah Balikpapan.
Munif juga menuturkan sesaat sebelum kejadian tersebut, korban sempat izin pergi memancing. Namun, keluarga tidak diberi tahu jika korban pergi memancing ke tengah laut menggunakan kapal. “Korban tidak bisa berenang, dan biasanya hanya mancing di pinggiran saja. Kalau tahu mau pergi mancing di tengah laut, pasti kami larang,” ujarnya.
Korban yang sehari – hari bekerja di bengkel pabrikasi diketahui memang memiliki hobi memancing. Namun, dia hanya sebatas pergi memancing di pinggir laut. “Kami berharap Sandi bisa segera ditemukan petugas,” tukasnya.
Hingga Sabtu 31 Oktober 2020 siang, pencarian belum membuahkan hasil. “Pencarian melibatkan unsur laut dan udara dibantu dari TNI Angkatan Laut. Tapi hingga saat upaya pencarian masih belum membuahkan hasil, dan tim masih terus melakukan penyusuran di sekitar lokasi kejadian,” ujar kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Balikpapan, Melkianus Kotta.
Tim pencarian juga harus berhadapan dengan tinggi gelombang laut yang mencapai 1 meter. Kawasan Teluk Balikpapan juga sempat diguyur hujan sejak pagi hingga siang hari.
Penulis: Iwan