src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi. Cacing tanah sering dianggap bisa menyembuhkan demam tifoid, tapi ternyata ada efek bahayanya. (Pixabay/Natfot)HEADLINEKALTIM.CO – Kasus demam tifoid yang masih tinggi di berbagai daerah membuat sebagian masyarakat tetap mengandalkan pengobatan tradisional. Di sejumlah wilayah, air rebusan cacing tanah menjadi salah satu metode yang diwariskan turun-temurun dan dipercaya membantu meredakan gejala.
Dilansir dari CNN Indonesia, meski dianggap ampuh, praktik ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika diberikan kepada anak.
Demam tifoid merupakan infeksi akibat bakteri Salmonella Typhi yang menular melalui makanan atau minuman terkontaminasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 17 juta kasus terjadi setiap tahun dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa.
Mengutip laman resmi Universitas Airlangga, sebagian keluarga menganggap air rebusan cacing tanah sebagai “penolong kedua” setelah obat medis. Ada yang langsung memberikannya ketika anak mulai demam, sementara lainnya mengombinasikan dengan obat dokter.
Pilihan ini biasanya dipengaruhi faktor budaya, kenyamanan dengan pengobatan alami, hingga keyakinan bahwa bahan tradisional lebih cepat menyembuhkan. Namun asumsi bahwa obat alami selalu aman tidak sepenuhnya benar. Penggunaan air rebusan cacing justru dapat menimbulkan efek samping, terutama pada anak dengan sistem kekebalan yang masih berkembang.
Berikut beberapa risiko kesehatan yang dapat muncul saat mengonsumsi air rebusan cacing tanah:
Cacing tanah hidup di lingkungan lembap seperti tanah dan kompos, yang rawan terkontaminasi bakteri, parasit, hingga logam berat. Jika tidak dibersihkan dan diolah dengan benar, air rebusan dapat membawa mikroorganisme berbahaya ke tubuh. Cacing dari tanah tercemar juga dapat mengandung timbal atau merkuri yang berisiko menyebabkan keracunan maupun infeksi pencernaan.
Penggunaan yang tidak memiliki standar dosis meningkatkan potensi reaksi alergi. Sensitivitas tubuh anak berbeda-beda, sehingga gejala seperti mual, muntah, diare, gatal, hingga ruam kulit dapat muncul kapan saja. Tanpa uji klinis yang memastikan keamanan, efek jangka panjang penggunaannya pun belum diketahui.
Tidak ada pedoman mengenai jumlah cacing, durasi perebusan, atau berapa banyak takaran yang aman untuk diminum. Kondisi ini membuka peluang overdosis maupun underdosis. Lebih jauh, penggunaan obat tradisional tanpa pengawasan medis dapat membuat orang tua menunda pengobatan tifoid yang seharusnya ditangani dengan antibiotik sesuai resep dokter.
Apabila anak mengalami demam tinggi, lemas, mual, atau masalah pencernaan, orang tua disarankan segera membawa ke fasilitas kesehatan. Penanganan tifoid membutuhkan pemeriksaan dan terapi medis yang tepat sehingga pengobatan tradisional tidak boleh dijadikan pengganti utama.