src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas saat meninjau langsung lokasi persemaian bibit kakao yang berlokasi di UPT Pertanian di Kecamatan Sambaliung. (Foto: Ist)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Tak hanya mengandalkan potensi lahan dan kualitas biji kakao, Pemkab Berau mulai memperluas basis produksi melalui dukungan bibit dan pendampingan bagi petani. Sebanyak 200 ribu bibit kakao secara bertahap disiapkan untuk disalurkan kepada delapan kelompok tani yang tersebar di enam kampung sentra budidaya kakao.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyampaikan, bantuan tersebut merupakan hasil dari upaya pemerintah daerah membuka kolaborasi dengan pemerintah pusat. Usulan bantuan bibit disampaikannya langsung kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). “Alhamdulillah, usulan tersebut mendapat respons positif dan kini 200 ribu bibit kakao untuk pengembangan 200 hektare lahan siap disalurkan kepada petani,” ungkapnya.
Menurutnya, penambahan areal tanam tersebut bukan sekadar meningkatkan jumlah tanaman kakao. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat posisi kakao Berau yang selama ini telah memiliki kualitas dan pasar hingga ke luar negeri. Ia melihat potensi tersebut sebagai modal penting untuk mengembangkan kakao secara lebih serius. Kondisi lahan yang dinilai sesuai untuk tanaman kakao, ditambah kualitas biji yang telah mendapat perhatian pasar internasional menjadi alasan pemerintah terus mendorong pengembangan komoditas tersebut.
“Kultur tanah di Berau sangat cocok untuk budidaya kakao. Tentu kita ingin produksi cokelat dari Berau semakin meningkat sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional maupun internasional,” ucapnya.
Ia pun meminta kelompok tani penerima bantuan tidak hanya melihat bibit sebagai bantuan pemerintah, tetapi sebagai modal awal untuk membangun kebun yang produktif dan berkelanjutan. Kata dia, keberhasilan program tersebut nantinya akan sangat ditentukan oleh pemeliharaan tanaman, penerapan teknik budidaya yang tepat hingga kualitas hasil panen. “Kita berharap masyarakat petani benar-benar memanfaatkan bantuan ini dengan baik. Budidayanya harus dilakukan dengan baik sehingga hasil panen yang diperoleh juga memberikan hasil terbaik,” jelasnya.
Jika produktivitas meningkat dan kualitas tetap terjaga, pengembangan kakao diyakini dapat memberikan efek yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat rantai usaha perkebunan dan membuka peluang pasar yang lebih besar. “Pendampingan akan dilakukan melalui OPD terkait bersama tenaga penyuluh untuk memastikan petani mendapat dukungan selama proses budidaya,” tutupnya. (Riska)