src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Warga Santan Ulu Andalkan 11 Kereta Gantung Buatan Melintasi Kebun Sawit dan Sungai Habitat Buaya

Warga Santan Ulu Andalkan 11 Kereta Gantung Buatan Melintasi Kebun Sawit dan Sungai Habitat Buaya

2 minutes reading
Saturday, 24 Jan 2026 21:30 102 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Perjuangan warga Desa Santan Ulu Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara melintasi kebun sawit cukup berat. Mereka harus menggunakan, termasuk saat melintasi sungai karena tidak ada jembatan.

“Kereta gantung menjadi andalan warga desa, menuju kebun sawit. Kereta ini juga dipakai untuk angkut buah sawit,” sebut Camat Marang Kayu, AR Ambo Dalle, Sabtu 24 Januari 2026, kepada Headlinekaltim.co.

Masyarakat desa ini banyak yang berprofesi sebagai petani sawit.. Kereta gantung buatan dipakai juga untuk anak-anak petani sawit. “Ada sekitar 11 kereta gantung, yang tersebar dibeberapa lokasi,” ujarnya.

Ambo mengatakan kereta gantung dibikin secara gotong royong oleh warga karena kebutuhan mendesak. Warga tidak dikenakan biaya jasa meski ada petugas yang mengatur kereta. “Kebutuhan mendesak warga di sini adalah jembatan permanen,” tegasnya Ambo.

Resiko yang harus dihadapi menggunakan kereta gantung buatan cukup tinggi. Salah satu warga bernama Edo yang berprofesi sebagai buruh tani sawit, pada Minggu 18 Januari 2026 pekan kemarin, terjatuh dan meninggal dunia. Jasadnya ditemukan oleh tim gabungan Basarnas Kutim dan Kukar, serta Polsek Marang Kayu. Ancaman lainnya, di sungai Santan Ulu sudah terkenal banyak buaya ganas.

“Pada saat tim Basarnas Kutim dan Kukar mencari korban, saya sarankan jangan menyelam, karena banyak buaya. Sebaiknya menyisir saja. Alhamdulilah, ketemu tiga hari setelah kejadian jatuh, tersangkut di pohon bambu,” jelasnya.

Pihak kecamatan dan desa, sebut Ambo, sudah mengajukan usulan pembangunan jembatan permanen ke Pemkab Kukar. Namun, belum terwujud sampai sekarang. “Sudah pernah ditinjau dan dibor untuk persiapan pembangunan jembatan di RT 02 oleh Dinas PU Kukar. Kami terserah saja lokasinya di mana, yang terpenting terbangun jembatan,” terangnya.

Jembatan permanen yang diinginkan warga adalah yang bisa dilintasi minimal sepeda motor atau kendaraan roda tiga untuk angkutan buah sawit. Perkebunan sawit yang ada di Santan Ulu seberang seluas 100 hektare, mencakup wilayah RT 18, RT 02 dan 03.

“Ini kami akan usulkan kembali ke Dinas P untuk bisa dibangunkan jembatan permanen karena sangat dibutuhkan,” keluhnya.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x