src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
dr. Melanny Widjaja, SpKJ, M.Kes. (Ist) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Video syur yang diduga diperankan seorang mahasiswi asal Berau tengah viral lewat aplikasi gawai. Tentunya, video ini semakin mudah diakses banyak kalangan, termasuk remaja.
Psikiater RSUD dr. Abdul Rivai, dr. Melanny Widjaja mengatakan sebaiknya kalangan pelajar dan mahasiswa tidak ikut menyebarkan dan menonton video dengan durasi 1 menit tersebut.
Kata dia, pornografi punya dampak buruk terhadap mental remaja. Seperti dampak pada keobsesifan (pikiran yang berulang) dan akan diikuti dengan kompulsif (tindakan yang berulang) akibat video porno tersebut sehingga bisa berakhir pada tindakan kriminalitas.
Dampak buruk lainnya, tayangan porno bisa menyebabkan kesulitan untuk fokus dan konsentrasi. Kesulitan untuk mengendalikan pikiran obsesif tersebut bisa memunculkan perasaan gelisah, mudah terangsang secara seksual dan emosi yang labil.
“Tergantung dari penerimaan masing-masing individu. Kalau memang mengarah ke hal yang negatif, pada akhirnya penerimaan dari individu tersebut tidak bagus dan menimbulkan gangguan kejiwaan,” jelasnya, Jumat 8 April 2022.
Dikatakannya, remaja yang terpapar bisa rentan terjadi konflik antara ego dan superego yang muncul dalam bentuk selalu merasa bersalah, tidak percaya pada diri sendiri dan sulit mempercayai orang lain. Pada akhirnya akan menimbulkan phobia sosial dalam artian sulit untuk menjalin hubungan sosial.
Aktivitas sosial sehar-hari bisa terganggu, berupa tidak mengurus diri sendiri, tidak dapat melanjutkan sekolah dan sulit untuk menikmati hal-hal lain yang menyenangkan. “Untuk mengatasinya sebenarnya perlu dukungan dari berbagai pihak terutama dukungan dari keluarga inti dan sekolah,” tuturnya.
Dia melanjutkan, usia remaja adalah usia pencarian jati diri dan masa labil. Jadi, peran keluarga terutama orang tua sangat diharapkan untuk membangun komunikasi dua arah dengan anak di fase ini. Komunikasi dengan anak tidak lagi menempatkan diri sebagai orang tua dan anak tapi lebih berusaha untuk menempatkan diri sebagai teman. Jadi, dengan sendirinya akan timbul kepercayaan sehingga remaja akan bisa lebih terbuka dalam membicarakan segala hal dengan orang tua.
“Berikan pendidikan tentang masalah seksual secara dini sehingga para remaja bisa menilai dan memandang pornografi itu dari sisi positif dan negatifnya. Demikian juga dengan sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, penting untuk memberikan pandangan yang luas mengenai pornografi secara dini dengan mempertimbangkan berbagai aspek, terutama pada perkembangan mental dan tidak terlepas dari norma sosial.
“Untuk para remaja, berusahalah untuk berdialog bila mengalami atau mendapatkan informasi (pornografi) supaya bisa mendapatkan pandangan yang bersifat mendidik. Intinya lebih terbuka dalam mengkomunikasikan segala hal,” tukasnya.
Remaja perlu melakukan kegiatan-kegiatan yang positif misalnya berolah raga atau melakukan hobi yang lebih berguna untuk mengalihkan pikiran dari hal yang negatif.
Penulis: Riska
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim