src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> TPA Bekotok Segera Dikembangkan, Mengarah ke Pola Sanitary Landfill

TPA Bekotok Segera Dikembangkan, Mengarah ke Pola Sanitary Landfill

waktu baca 2 menit
Senin, 13 Jul 2026 21:11 53 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) memastikan TPA Bekotok akan segera memasuki tahap pengembangan. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas kapasitas TPA Bekotok yang kini semakin mendekati batas maksimal akibat tingginya volume sampah yang masuk setiap hari.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan TPA Bekotok memang perlu diperluas agar tetap mampu melayani kebutuhan pengelolaan sampah masyarakat. Pengembangan tersebut akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang saat ini masih dipengaruhi kebijakan efisiensi belanja pemerintah. “Pasti kita lakukan pengembangan TPA Bekotok,” jelas Tri Joko Kuncoro, belum lama ini.

Menurutnya, pengembangan TPA Bekotok tidak akan dilakukan secara besar-besaran. Meski demikian, peningkatan fasilitas tetap diarahkan untuk memenuhi standar pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Ia menegaskan bahwa metode pembuangan sampah secara terbuka atau open dumping sudah tidak lagi diperbolehkan.

Sebagai gantinya, pengelolaan di TPA Bekotok terus diarahkan menggunakan sistem Sanitary Landfill, yakni metode penimbunan sampah yang dilakukan secara berlapis menggunakan tanah sehingga mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menekan dampak bau maupun pencemaran air. “Pengelolaan sampah di Bekotok sudah mengarah ke Sanitary Landfill,” ucapnya.

Tri Joko menjelaskan, penerapan sistem tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang cukup besar. Pasalnya, setiap timbunan sampah harus diuruk atau ditutup secara berkala sesuai standar operasional pengelolaan tempat pembuangan akhir.

Saat ini, TPA Bekotok menerima hampir 100 ton sampah setiap hari. Sampah yang masuk berasal dari wilayah Tenggarong, Tenggarong Seberang, dan Loa Kulu, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan Tenggarong. “Didominasi sampah dari Tenggarong,” jelasnya.

Selain melakukan pengembangan TPA Bekotok, DLHK Kukar juga terus mengedukasi masyarakat agar mampu mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya. Warga didorong melakukan pemilahan sampah rumah tangga sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali yang dibuang ke TPA Bekotok.

Sampah plastik, kata Tri Joko, memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dengan baik. Masyarakat dapat menyetorkannya ke bank sampah yang tersedia di sejumlah kelurahan dan desa. Sementara itu, sampah organik atau sampah basah dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi pertanian maupun kebutuhan rumah tangga. “Kalau sampah sudah diolah dengan baik dari rumah, pasti tidak akan menumpuk di TPA,” tutupnya. (Andri)

LAINNYA
x