src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kisah Sonya Da Silva, Perantau yang Sukses Kembangkan Tenun Berau M@M@Be

Kisah Sonya Da Silva, Perantau yang Sukses Kembangkan Tenun Berau M@M@Be

6 minutes reading
Monday, 2 Jun 2025 19:25 312 huldi amal

TENUN menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Sonya Da Silva. Perempuan asal Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu merantau bersama suaminya. Mengadu nasib di Kabupaten Berau sejak tahun 2006. Kini, ia menjadi salah satu pelopor dalam sejarah terbentuknya Tenun Berau berlabel M@M@Be.

Mama Sonya (sapaan akrabnya) duduk dengan santai di depan alat tenunnya. Tangannya yang terampil sedang mengikat benang-benang dengan menggunakan tali rafia biru. Proses ini bertujuan untuk membentuk motif tenun. Sementara, perempuan yang lain sibuk dengan tugasnya masing-masing. Kondisi cuaca begitu cerah. Mereka bekerja dengan penuh konsentrasi.

Setiap helai benang ditenun dengan teliti. Keindahan kain tenun tersebut dikerjakan dengan sepenuh hati. Suara alat tenun bergetar memenuhi sudut ruangan. Dengan kebulatan hati, pemilik tenun Berau M@M@Be ini berupaya menjaga warisan budaya dan melestarikan tenun khas Kabupaten Berau.

Awalnya, Berau belum memiliki tenun. Saat itu, Ketua Dekranasda Berau 2016-2020, Sri Juniarsih Mas (saat ini menjabat sebagai Bupati Berau) meminta agar Kabupaten Berau memiliki tenun. “Ibu (Sri) meminta kita agar jadikan Berau ada tenun,” ucapnya dengan logat khas Maumere.

Saat merantau ke Kabupaten Berau, Perempuan kelahiran 1978 ini masih membuat tenun dengan motif dan warna khas Maumere. Seiring berjalannya waktu, Sri Juniarsih meminta agar tenun tersebut dibuat dengan motif, desain, dan warna khas Berau. “Jadi M@M@Be ini lahir pada tahun 2016,” ungkapnya.

Beberapa minggu kemudian, Mama Sonya langsung meluncurkan tenun Berau dengan motif pertama yaitu motif Alam Banua. Tahun 2018, berkat dukungan dari Dekranasda Berau dan Corporate Sosial Responsibility (CSR) Berau Coal. Akhirnya, M@M@Be diberi bantuan berupa rumah tenun di Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur.

Menurutnya, Pemerintah Kampung, Diskoperindag, Dekranasda Berau dan pihak lainnya tidak tinggal diam. Mereka memberikan motivasi dengan ilmu berupa pelatihan dan bimbingan. “Biarpun motif dan warna tenun kita terbilang sudah cantik, pihak terkait selalu support kita dengan legalitas. Sehingga kita sudah punya brand atau merek M@M@Be dan itu sudah dipatenkan,” jelasnya.

Proses legalitas tersebut dibiayai pihak Diskoperindag Berau. Ada sepuluh motif tenun. Tujuh motif milik desain M@M@Be dan tiga motif milik desain Pemda Berau. Dari sepuluh motif yang diciptakan, empat diantaranya sudah memperoleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Yaitu motif Alam Banua, Penyu Saparadianta, Tukik Penyu Kulanta, dan Karitan Tutul. Motif lainnya masih dalam proses pengajuan HAKI. Sementara, motif milik Pemda yakni motif Rutun Penyu, Serewangi dan Kidakidah,” bebernya.

Ketua Kelompok Perajin Tenun Berau M@M@Be ini menuturkan, ada dua jenis tenun yang dihasilkan, yaitu gedogan dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Menurutnya, proses pembuatan tenun gedogan lumayan lama dan tebal.

“Tidak semua kalangan suka kain tenun yang tebal. Dekranasda dan Diskoperindag Berau memberikan pelatihan yang luar biasa sehingga kita belajar membuat jenis tenun ATBM. Mereka juga support kita dengan bantuan alat-alat,” ujarnya dengan senyum.

Mama Sonya menyebutkan, ada empat unit alat, terdiri satu unit alat tenun gedogan dan tiga unit ATBM. Jumlah penenun M@M@Be ada 10 orang. Semua aktif bekerja. Penenun paling muda berusia 18 tahun. “Jadi bukan hanya emak-emak saja, tetapi remaja juga ikut bertenun. Sudah ada kader-kader penenun baru di Kampung Tumbit Melayu,” ungkapnya.

Tenun membutuhkan proses yang cukup panjang. Tahapan demi tahapan harus dilalui dengan sabar. Membutuhkan waktu minimal satu bulan untuk proses persiapan hingga selesai. Seperti tahapan pemilahan benang, penggulungan, pembentangan benang, pembuatan motif, pewarnaan untuk variasi, pembukaan motif, pembagian kres, proses variasi, hingga menenun.

Bahan baku yang dipakai adalah benang yang didatangkan dari luar Kabupaten Berau, seperti dari Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya.  “Satu potong kain biasa ditenun satu hari dari jam 08.00-16.00 Wita, dengan panjang kain 2,5 meter,” tuturnya.

Menurutnya, jika konsumen meminta motif beberapa warna, maka proses pengerjaannya juga membutuhkan waktu yang agak lama. Ia menilai proses untuk jenis tenun gedogan yang paling lama, bisa sampai satu bulan lebih.

“Kalau jenis ATBM, dalam satu bulan bisa menghasilkan 24 lembar tenun. Memang proses persiapannya itu yang agak lama,” ungkapnya.

Harga untuk tenun berbentuk syal sebesar Rp60.000. Sedangkan untuk kain berkisar Rp500.000. M@M@Be juga menerima pesanan untuk seragam kantor atau sekolah. “Jadi, bukan hanya dalam bentuk kain saja tetapi juga dalam bentuk baju,” bebernya.

Namun, untuk pembuatan baju seragam dari tenun harus dipesan terlebih dahulu. Pihaknya juga melakukan kerja sama dengan penjahit khusus. Tidak asal pilih penjahit. “Puji Tuhan, dari Diskoperindag Berau juga sudah order 82 lembar baju untuk seragam kantor,” ungkapnya.

INCAR PASAR INTERNASIONAL

Eksistensi Tenun Berau M@M@Be tidak hanya berakhir pada level lokal saja. Namun, aktif pada ajang fashion show dan pameran tingkat nasional. Tenun ini semakin dikenal saat perwakilan dari Indonesia tampil dengan anggun menggunakan Tenun M@M@Be pada ajang Miss Asia Awards 2018 di Shanghai, China. Ajang ini berkontribusi pada peningkatan popularitas dan sekaligus mempromosikan tenun M@M@Be hingga tingkat internasional.

“Berawal dari mengikuti lomba fashion di ajang Kartini Week, Jakarta. Kemudian kolaborasi dengan presenter radio-radio. Tenun Berau M@M@Be diminta untuk ikut Miss Asia Awards 2018. Ini pengalaman yang sangat istimewa,” tuturnya.

Mama Sonya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Berau, khususnya Diskoperindag, Dekranasda, dan pihak-pihak lainnya yang mendukung tenun Berau M@M@Be sehingga semakin dikenal baik nasional maupun internasional.

“Sebelumnya kita sempat kewalahan dengan permintaan pasar, dengan adanya dukungan alat ATBM beserta ilmu, jadi kita bisa memenuhi permintaan pasar,” ucapnya.

Pemasaran produk tenun dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, seperti meningkatkan akun bisnis di Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Kemudian, melalui pameran yang dilaksanakan oleh dinas, instansi pemerintah serta perusahaan yang ada di kabupaten Berau, dipasarkan di berbagai outlet lokal misalnya Dekranasda Kabupaten Berau dan galeri rumah tenun M@M@Be di Kampung Tumbit Melayu.

Mama Sonya juga berharap bisa membangun galeri atau pusat perbelanjaan tenun khas Berau di Kota Tanjung Redeb. Sehingga, wisatawan yang datang bisa dengan mudah mencari oleh-oleh. Begitu juga dengan workshop-nya.

“Jadi kalau ada pengunjung mau melihat langsung bisa. Terkadang permintaan konsumen itu lumayan jauh untuk kurir mengantarkan produk tenun. Kendala lainnya adalah faktor cuaca. Mudah-mudahan bisa ada galeri tenun di pusat kota. Doakan semoga ini tercapai,” harapnya.

Ia mengakui, perekonomian dari hasil tenun M@M@Be ini sangat luar biasa efeknya untuk kesejahteraan perempuan dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. “Emak-emak yang tergabung di sini (M@M@Be) juga bisa membantu perekonomian keluarga,” tutupnya. (Riska)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x